Cerpen Rizki Wahid (Singgalang, 05 Mei 2019)

Pria dan Temannya di Dalam Rumah ilustrasi Singgalangw.jpg
Pria dan Temannya di Dalam Rumah ilustrasi Singgalang

Angin berhembus memasuki ventilasi rumah. Setiap kesejukan yang dihembuskannya terpaksa harus melewati jalur alternatif karena pintu depan rumah sedang ditutup oleh si empunya rumah. Sementara, di dalam rumah seorang pria paruh baya sedang terlelap penuh nikmat bersama mimpinya. Rasa kantuk dan lelahnya berkombinasi hingga membuat ia tak sadar diri bahwa sekarang jam dinding di depan kamarnya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.

Maklum saja jika ia masih terlelap. Suasana semesta sedang mendukungnya untuk tak beranjak jauh dari kasur dan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala. Hingga ia mulai setengah sadar saat seekor kucing mungil dengan bulu hitam kecoklatan mengeong-ngeong bak seperti seorang ibu yang membangunkan anaknya yang harus pergi sekolah.

Suara kucing mungil nan lucu itu terlihat merdu, apalagi jika melihat sikap dan paras dan kucing tersebut tentu makin membuat siapa yang melihatnya tak tahan ingin mengelus bulubulunya yang bersih nan lembut.Ia beranjak sema kin dekat dengan kamar pria paruh baya yang memang sengaja tak dikunci. Pria itu hanya tingal seorang di rumah yang memang tak cukup ditempati untuk banyak orang.Jika kau bertanya alasan apa yang mendasari seorang pria paruh baya untuk menghabiskan sisa umurnya seorang diri di rumah yang tak terlalu jauh dari pemukiman manusia, pasti ada alasan kuat bagi si pria untuk mengambil pilihan ini dibanding dengan opsi lain.

Konon, pria ini memilih menutup diri dari dunia luar karena sangat kecewa terhadap manusia yang pernah ia jumpai dalam hidupnya. Ya, semua manu sia.Lalu apakah defenisi semua manusia itu termasuk keluarganya?  Itu hanya alasan yang makin menguatkan untuk tak menyesali pilihan yang ia ambil saat ini. Baginya tak ada lagi yang bisa ia percayai. Memang sangat sombong sekali kesannya.Sangat melawan sifat manusia sebagai seorang makluk sosial. Namun, setiap manusia yang bisa berfikir jernih pasti akan menemukan korelasi yang baik dari setiap alasan yang diambil seorang. Termasuk pria setengah baya yang pagi ini terbangun oleh keongan seorang kucing kecil yang mungil.

***

Advertisements