Cerpen Kiki Sulistyo (Suara Merdeka, 05 Mei 2019)

Pedang Hijau dari Laut ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdekaw.jpg
Pedang Hijau dari Laut ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Tubuhku bergoyang ketika membuka mata. Sesaat, suatu kekosongan memenuhi diriku. Sesaat yang tidak bisa kuhitung karena demikian singkat, sekaligus demikian lama. Lalu aku sadar, yang sedang tertangkap mataku adalah langit biru, seperti lempengan yang meluncur cepat. Pendengaranku bekerja; suara derak roda, suara telapak kaki kuda, lalu, “Hiyaaa, hiyaaa, hiyaaa!” Suara yang serak dan seperti dipaksa sehingga nyaris pecah. Aku dalam keadaan terbaring, segera bangkit, hampir berdiri, tetapi guncangan kereta membuat tubuhku tertahan dalam posisi duduk. Kupegang pinggiran kereta dan segera tahu, aku tidak sendirian.

Dalam kereta kuda itu ada lima laki-laki lain. Setiap orang memegang tombak tegak lurus. Ujung tombak berbentuk nyala api, berwarna emas. Mereka diam, bergeming menatapku dengan dingin. Tak jauh di belakang kereta, ada kereta lain, bergerak dengan kecepatan sama. Di belakangnya ada kereta lain, begitu seterusnya, sampai aku tak bisa menghitung berapa banyak kereta yang sama-sama melaju ke satu arah itu. Aku ingin bertanya pada salah seorang lelaki, tapi urung.

“Sampai! Sedikit lagi sampai!” seru kusir kereta sambil mengangkat tangan kiri tinggi-tinggi.

Kereta memasuki jalan berpasir yang menurun, diapit pohon-pohon kelapa. Debu berkepulan. Kereta terguncang-guncang lebih keras.

Lima laki-laki dalam kereta berdiri serentak. Mereka seperti tidak memedulikan aku yang masih duduk terguncang-guncang. Meskipun kereta melaju, lima laki-laki itu berdiri kukuh, tidak tergoyahkan. Kuperhatikan pakaian semua laki-laki itu hampir serupa; rompi warna hijau dengan tepi-tepi keemasan, celana panjang hijau dengan lingkaran emas di mata kaki. Di lengan masing-masing ada gelang berukiran naga, dan di  setiap kepala ada semacam ikat kepala dari kain lurik. Semua hampir sama, kecuali seorang lelaki yang tak mengenakan ikat kepala tetapi logam emas serupa mahkota.

Kereta masih bergerak ketika lelaki bermahkota emas menyambar lenganku dan terjun dari kereta. Aku nyaris terguling, tetapi lelaki bermahkota emas dengan suatu cara telah menahan tubuhku. Semua lelaki dalam kereta serentak melompat turun, menghambur ke satu arah. Teriakan mereka membuat unggas-unggas ketakutan; ayam-ayam berpetok riuh, burung-burung terbang serampangan. Lelaki bermahkota emas menarikku untuk berlari ke arah yang sama dengan laki-laki lain. Aku merasakan angin kasar menerpa kulit wajah. Bau garam demikian dekat dan beberapa saat setelah berlari kudengar suara ombak mengempas, lalu terbentanglah laut biru terang.

Advertisements