Cerpen Teguh Affandi (Jawa Pos, 05 Mei 2019)

Mesin Penjual Otomatis ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Mesin Penjual Otomatis ilustrasi Budiono/Jawa Pos

TENGGOROKANKU begitu sensitif, mudah radang dan batuk bila menelan minuman atau penganan mengandung sakarin. Termasuk penganan yang biasa dibawa Jilung sekembalinya dari jogging pagi hari. Jilung selalu beralasan tidak enak melewati penjual kue yang bengong menanti kedatangan pembeli yang juga tak pasti. Keramahan Jilung juga sakarin.

Genggaman tangan Jilung mengendur. Udara dingin mengisi sela-sela jemari kami. Aku tak habis pikir, pagi ini batuk dan radang berubah menjadi batu yang merangsek dada. Ruangan serba putih tak berhasil membuat mendung menyingkir dari ruangan ini. Jilung mengelus-elus punggungku. Aku tak menangis. Aku lebih ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan Jilung setelah diperdengarkan vonis.

“Semua akan baik-baik saja,” Jilung mengusap ujung mata.

Aku terhenyak. Telingaku seolah disiram kemerduan yang lama tak keluar dari mulut Jilung.

“Benar, belum terlalu parah. Kita akan melakukan pengobatan kimia. Mencegah penyebaran sel kanker,” suara dari balik baju putih itu akhirnya keluar.

“Alat-alat medis sudah canggih,” Jilung kembali menguatkan.

Segala macam kalimat lenyap. Aku bingung harus membalas bagaimana. Bahagia karena sel kanker yang membercaki paru-paruku masih ada kemungkinan bisa dilenyapkan. Ataukah sedih, ternyata hobiku merokok dan minum alkohol membawa ampas buruk di saat usiaku belum terlampau jauh berjalan dari angka empat puluh.

Aku izin keluar ruangan Dokter Kartolo. Aku butuh sesuatu yang mampu mengangkat semua kegundahan. Plang berisi nama Dokter Kartolo spesialis onkologi mendadak lebih jelas terlihat. Ketika aku dan Jilung beberapa jam lalu masuk, tak sekali pun kucermati. Yang mencuri perhatianku tadi ialah bangku-bangku warna putih yang sepi dan sendirian. Juga lorong panjang yang hanya menggaungkan suara-suara dari sisi lain rumah sakit. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja, bilamana setiap hari harus bertemu keganjilan seperti ini.

Aku melangkah mendekati ujung koridor yang bertemu dengan kaca jendela. Mungkin aku bisa melihat lapangan parkir atau sekadar jalan raya yang pasti penuh kendaraan bermobil. Saat mataku melongok, kusaksikan taman kecil di sisi rumah sakit. Beberapa orang duduk menatap bunga, suster menemani. Juga beberapa kursi roda yang terparkir tepat di depan perdu bunga krisan.

Advertisements