Cerpen Juliani (Serambi Indonesia, 05 Mei 2019)

Malaikat Cacat ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw.jpg
Malaikat Cacat ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia 

ATI belajar di Kedokteran, Agam di Pertanian, dan Icut masih berseragam merah putih. Itulah alasan kenapa Apali dan Kati seperti sedang beribadah jika tengah bergelut di sawah. Mereka harus melumuri tubuh dengan sungai keringat demi tak melihat anak-anaknya kosong pendidikan di kepala—seperti mereka. Apali dan Kati terbilang masih muda. Apali masih tiga puluh enam dan Kati tiga tahun di bawahnya. Namun raut wajah mereka jauh lebih tua. Bagaimana tidak, rupa mereka tak pernah alpa disengat matahari dan gejolak batin mereka tak pernah merdeka.

Apali berkulit abesy dan tingginya hampir mencapai langit pintu. Sedangkan Kati berbadan sangat pendek dan bungkuk mirip karapaks, lalu disempurnakan oleh kakinya yang terlampau panjang. Bagian atas Kati seolah dirampas oleh bagian bawahnya. Di balik cacatnya, Kati memiliki paras yang menutupi aibnya itu. Namun Ati, ia mewariskan segala kelebihan yang ada pada kedua orang tuanya. Ia cantik seperti ibunya dan berpostur seperti ayahnya. Seolah Ati diciptakan Tuhan saat Tuhan sedang menerima berita bahagia dari Jibril.

Seperti juga rutinitas pegawai berdasi, di pagi gigil Apali menuju ke medan laganya. Hanya, bukan dengan roda empat, tapi dengan sepeda kumbang kenang-kenangan dari mertuanya yang setiap kayuhnya akan terdengar desis-desis legenda. Dan Kati akan menyusulnya sekitar jam sepuluh lengkap dengan bekal santap siang. Di dangau mereka akan makan bersama dan diteruskan dengan menghadap kiblat sesaat. Namun pagi itu, sebelum Kati berangkat, tiba-tiba Icut pulang sebelum waktunya dan menghantam pintu kamar lalu mengunci diri. Dan pada saat yang sama, beberapa warga desa menggedor-gedor pintu rumah Kati seperti lupa tata cara bertamu. Setelah Kati membuka pintu, warga yang mengangkat tubuh Apali segera berhamburan masuk bahkan sebelum Kati bisa dengan jelas melihat siapa yang mereka gotong.

“Sepertinya Apali dipatok ular kobra,” kata seorang rekan tani yang kausnya koyak di bagian lambung menjelaskan dengan napas tersisa.

***

“Besok, ya, Umi kirim. Belajar yang rajin! Abi dan Umi sehat. Icut juga sudah bisa baca. Dia pintar sepertimu. Ingat, jangan lupa salat!” di ujung sana, Ati yang menyimak suara uminya, sangat berbinar-binar.

Advertisements