Cerpen Aisyah Haura Dika Alsa (Analisa, 05 Mei 2019)

Jam Tangan Fayya ilustrasi Toni B - Analisaw.jpg
Jam Tangan Fayya ilustrasi Toni B/Analisa 

UPACARA bendera selesai, para guru dan siswa bubar menuju ruangan masing-masing. Fanya kembali memamerkan jam tangannya di kelas. Tadi di barisan saat upacara, dia hanya bisa memamerkan jam tangannya kepada beberapa teman. Kini, saat di kelas dia bisa memamerkannya kepada teman-teman lain.

Beberapa teman perempuan Fanya pun mengerumuni mejanya. Jam tangan itu benar-benar cantik dan feminim. Cocok sekali dengan tangan Fanya yang putih. Jam tangan itu dibeli di luar negeri, hal itulah yang membuat Fanya makin senang memamerkan jam tangan barunya.

Jihan masuk ke kelas bersama dengan Bu Tobing. Jihan adalah teman sebangku Fanya. Fanya menggoyangkan pergelangan tangan kirinya agar dapat dilihat Jihan, apalagi kalau bukan memamerkan jam tangan barunya.

“Baru ya?” sambut Jihan.

Fanya mengangguk dengan senyum mengembang.

“Impor, Singapura,” bisiknya pada Jihan.

Karena di depan Bu Tobing sudah memulai pelajaran, Jihan balas tersenyum manggut-manggut sambil terkagum, “Cantik. Cocok di tangan Fanya.”

Senyum Fanya makin kembang.

Fanya dan Jihan berteman dekat sejak mereka mulai sebangku dari awal kelas sebelas. Saat awal SMA, bisnis ayah Fanya mulai meningkat cukup pesat. Bisa dibilang, keluarga Fanya baru memasuki hidup mewah.

Setiap barang yang baru dibelinya, akan dipamerkan esoknya kepada teman-temannya di sekolah. Sebagian temannya penasaran, sebagian lagi muak dengan tingkah pamer Fanya.

***

Dua hari kemudian, jam tangan Fanya hilang saat pelajaran olahraga. Tak ada anak di kelas Fanya yang tidak ikut olahraga. Semuanya pergi ke lapangan. Saat kembali, jam tangan itu sudah tak ada di tasnya. Fanya lupa memakai jam tangannya kembali, jadi saat pelajaran olahraga jam tangannya tertinggal di tasnya, begitu pikirnya.

Advertisements