Cerpen Faris Al Faisal (Republika, 05 Mei 2019)

Berburu Malam Seribu Bulan ilustrasi Da'an Yahya - Republikaw.jpg
Berburu Malam Seribu Bulan ilustrasi Da’an Yahya/Republika

MALAM seribu bulan. Membayangkannya sungguh indah bukan buatan. Langit malam dipenuhi bermacam purnama yang terang benderang. Bulatan-bulatan cahaya yang banyak jumlahnya di atas langit dipandangi dari bumi dengan pancaran cahaya keindahannya. Seindah malam dengan seribu bola lampu tanglung bahkan lebih indah lagi.

“Wah, malam seribu bulan, indah sekali! Langit akan dipenuhi bulan,” gumam Anwar dalam hati saat mendengarkan ceramah ustaz Halim di sebuah musala.

Tausiyah ustaz Halim selanjutnya tak lagi disimak dengan baik oleh Anwar. Bocah berpeci putih, mengenakan baju koko yang juga berwarna putih dan sarung kotak-kotak berwarna cokelat itu masih juga membayangkan tentang malam seribu bulan pada malam bulan Ramadan. Namun, samar-samar ia masih mengingat perkataan penceramah yang tengah mendapat giliran kultum tiap salat tarawih di mushala dekat rumahnya itu, bila malam seribu bulan yang dikenal dengan nama lalilatul qadar itu hanya akan terjadi pada malam-malam ganjil pada akhir bulan Ramadan.

“Berarti besok malam adalah malam ke-21,” pikir Anwar yang tertarik untuk berburu malam seribu bulan. Memang setiap kali Ramadan datang, bocah itu belum pernah berburu lailatul qadar. Tahun ini ia bertekad untuk membidiknya.

Hari itu Anwar berpuasa dengan angan-angannya bertemu dengan malam kemuliaan itu. Di kamarnya seharian sudah ia tidur hanya untuk membekali diri agar mampu begadang sampai waktu subuh. Lantaran niatnya untuk tidur seharian, Anwar terlewat untuk shalat Zhuhur dan Ashar karena saat terbangun sudah waktu berbuka puasa. Itu pun karena ibunya mendapatkannya di kamar setelah terlebih dahulu sibuk mencari-cari dan bertanya ke sana kemari.

Malam ke-21 seusai salat tarawih. Anwar memepersiapkan diri untuk berjaga kalau-kalau malam ini akan terjadi malam seribu bulan. Ia sudah menyediakan obat nyamuk lotion untuk menghindari isap nyamuk-nyamuk nakal. Sepanjang malam ia menengadah ke atas langit dari beranda rumahnya. Hanya tampak bulan tunggal berbentuk seperti sesisir pisang cavendish. Namun, angin malam yang sepoi-sepoi menidurkannya di kursi panjang yang terbuat dari rotan buatan pengrajin rotan Cirebon. Saat terbangun ia terheran-heran, tahu-tahu ia sudah berada di kamarnya di atas pembaringannya.

Advertisements