Cerpen I Nyoman Agus Sudipta (Denpost, 05 Mei 2019)

Batu Hujan ilustrasi Mustapa - Denpostw.jpg
Batu Hujan ilustrasi Mustapa/Denpost 

SOROT mata Murti terlihat tajam. Langit biru yang ada di atas kepalanya dipandanginya tanpa berkedip sedikit pun. Seakan Murti menantang keangkuhan langit dan panasnya matahari. Tetapi sesungguhnya Murti sedang bicara. Dia sedang bicara dalam diam. Melalui sorot matanya itu, Murti sedang mengirim pesan. Entah pesan atau doa. Tubuhnya tidak bergeming sedikit pun. Walau hempasan angin Sasih Kapat menerpa dirinya. Dari gubuk tua di pinggir sawahnya, Murti masih menatap langit. Langit tetap saja membiru dan membisu. Matahari masih angkuh dengan panasnya. Namun Murti tidak berhenti menatap dengan penuh harap. Dari tatapannya itu, sesungguhnya Murti ingin melihat mendung. Mengharap ada arak-arakan mendung yang menari menghapus birunya langit. Mengharap mendung menjadi kelir, menutupi sorot matahari yang lebih tajam dari sorot mata Murti. Namun arak-arakan itu tidak ada. Tarian mendung tidak tampak sedikit pun di langit. Di sana Murti merasa kalah. Dirinya menyerah. Sorot matanya jatuh dan terlihat tidak lagi angkuh. Jatuh pada tanah sawah yang sudah mulai pecah. Sorot matahari yang panas telah membuat tanah-tanah menjadi pecah. Kering karena air sungai sudah mulai mengering. Murti heran dan tidak percaya. Mengapa pada tahun ini kemarau panjang mendera desanya. Padahal upacara besar sudah dilakukan dua belas hari yang lalu. Upacara memohon hujan turun dilaksanakan di Pura Bedugul. Tidak seperti biasanya. Bila upacara ini sudah dilakukan saat Tilem Kapat, lima hari setelah upacara itu tanda-tanda akan turun hujan terlihat. Mengapa pada tahun ini tidak?

“Sang Hyang Indra, mengapa engkau tidak turunkan hujan, tidakkah engkau kasihan kepada kami para petani.” Begitulah sepenggal doa yang diucapkan Murti dalam hati. Namun langit tidak bergeming sedikit pun.

“Mungkin upacara besar menyambut datangnya hujan yang baru saja digelar tidak membuahkan hasil. Mungkin upacara itu gagal. Kalau upacara itu gagal, maka hasil panen tahun ini pasti gagal juga.” Murti bergumam sendiri sambil memandangi padi-padi yang tampak kurus dan hampir menguning karena kering.

“Padahal sarana upacara yang dipersembahkan tidak berubah. Jro Mangku yang memimpin upacara juga tidak berubah. Lalu apanya yang salah?” Banyak pertanyaan yang melintas dalam pikiran Murti. Dirinya heran sekali dengan keadaan musim pada tahun ini.

Advertisements