Cerpen Roby Satria (Media Indonesia, 05 Mei 2019)

Aru-Aru ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Aru-Aru ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

SUARA azan magrib sayup-sayup terdengar, tapi Ampo tahu pasti ke mana ia akan melangkah. Ia terlihat sangat kacau. Benar-benar kacau dari seorang pemuda yang telah menghamili anak gadis orang. Seakan, ada sebuah sendok besar yang sedang mengaduk nira dalam belanga kepalanya. Lama-lama semakin pekat, dan lekat. Sementara lembab malam mulai datang selapis demi selapis. Suara keluang terdengar begitu mengiris.

Ampo tak memperlambat langkahnya sama sekali. Tangannya begitu erat memegang tali ember yang sengaja diambilnya dari belakang rumah. Awalnya ia sempat ragu untuk mengakhiri hidup dengan cara begini, karena teringat anaknya yang belum genap satu tahun. Tapi cepat-cepat ia buang keraguan itu, sama seperti ketika ia membuang keraguan untuk menikah di usia muda.

Tak ada jalan lain. Telah sepanjang hari Ampo berpikir harus memenuhi kebutuhan keluarganya dengan cara apa, pekerjaan tak ada. Bukannya tak ada, tapi ia tak punya keahlian apa-apa. Sebab bersekolah pun ia tidak. Pernah ia coba jadi penambang pasir. Tapi apalah daya, ia tak bisa berenang, terpaksa hanya bermain di tepian sehingga pasir yang terkumpul tak banyak. Lalu ia juga pernah sebagai kuli angkut, tapi upahnya terlalu sedikit dan itu pun harus berebutan dengan kuli lain. Jangankan untuk membeli susu anaknya, makan pun tak cukup, belum lagi biaya persalinan istrinya yang masih belum lunas. Ingin mengadu, tapi ia tak tahu akan ke mana dan kepada siapa. Ia dan istrinya hanyalah orang pendatang. Akhirnya, ia terpaksa mengutang sana-sini. Kini, utang itu telah melilit pinggang.

Ampo menarik napas dalam. Ia lihat pohon di depannya cukup besar dan kuat. Lalu ia perhatikan kiri dan kanan, kalau-kalau ada orang yang lewat. Namun, di celah matanya ada gerakan yang berkelebat. Ia mulai cemas, detak jantungnya berubah jadi kencang.

“Siapa di sana?”

Sesaat hening, hanya pekik keluang yang menyahut bersama desir daun digoyang angin. Karena tidak ada jawaban, ia beranikan untuk melihat sekeliling. Ia terkejut, dan hanya berdiri lurus, tak bergerak. Di depan matanya berdiri seorang perempuan. Rambutnya panjang tergerai, aromanya harum bunga rampai, perempuan itu tersenyum ke arahnya. Perempuan itu lalu mengulurkan tangan ke arah Ampo. Seperti seorang bocah yang diberi permen, Ampo berjalan mendekati perempuan itu. Tapi perempuan itu juga berjalan ke arah lain, dan Ampo begitu saja mengikuti.

Advertisements