Cerpen Fransiska Eka (Koran Tempo, 04-05 Mei 2019)

Eva dalam Dua Cerita Berbeda ilustrasi Koran Tempo.jpg
Eva dalam Dua Cerita Berbeda ilustrasi Koran Tempo 

01

Everything you see in a dream is but a reflection, a face in a mirror. (Jose Saramago)

Ini adalah kesenangan bagiku; mengutip kalimat seorang penulis terhormat, Jose Saramago. Aku merasa sedikit lebih istimewa, atau jika boleh jujur, jauh lebih istimewa dibanding tetanggaku yang saban hari kerjanya mengurusi makanan babi-babi dan bebek-bebek dan ayam-ayam peliharaannya. Atau, tetanggaku yang lain lagi, sepasang suami-istri yang gemar beradu makian; aku mengoleksi dua belas kalimat makian dari dua kabupaten berbeda, kampung asal sepasang suami-istri itu, tetanggaku, tapi tak elok jika kutuliskan pada halaman-halaman ini, bersanding dengan kutipan Jose Saramago. Bukan, bukan berarti tetanggaku kalah penting dari Jose, tetapi karena tak baik menggabungkan yang kudus dengan yang buruk. Meski pengetahuanku tentang sastra terhitung nol, aku paham betul, tak layak melempar mutiara ke kandang babi; kalimat Jose Saramago adalah mutiara, dan kandang babi…

Satu-satunya hal yang elok dari pertengkaran sepasang suami-istri ini adalah penyebabnya. Sang istri memiliki tanda lahir, dua ekor ular berpagutan, segaris dengan ruas tulang punggungnya, jantan dan betina. Tanda lahir itu tak menyukai si suami. Tak jarang si suami merasa tubuhnya dirayapi ular, atau ada sepasang ular yang tidur laiknya manusia di antara ia dan istrinya; dalam tiap pertengkaran ia menyebut-nyebut sepasang ular, menyebut-nyebut bagaimana ia nyaris dipagut, bagaimana ia, seorang lelaki yang bersih lakunya, hendak dihabisi di atas ranjangnya sendiri oleh sepasang ular yang mendengki, sepasang ular yang berasal dari tubuh istrinya. Ular yang tak kelihatan, bantah si istri. Ular yang hanya ada dalam khayalanmu, teriak si istri sambil melempari si suami dengan kerikil di pekarangan rumah. Si suami biasanya menghilang selama tiga hari, kembali pada pagi keempat, kabur pada pagi kelima. Siklus pertengkaran keduanya berulang pasti seperti siklus terbit-tenggelamnya matahari. Tetanggaku yang saban hari mengurusi babi-babi, bebek-bebek dan ayam-ayam percaya pada omongan si suami. Jika ada seekor-dua ekor ayam peliharaannya menghilang, ditudingnya sepasang ular jantan-betina yang berumah di tubuh istri tetangga telah menyelinap ke kandang dan menyantapnya. Ia menyindir-nyindir; Perempuan, kalau kau memelihara ular di tubuhmu, kau bertanggung jawab memberinya makanan dari apa yang ada di dapurmu sendiri! Pernah kutanyakan, mengapa tak terus terang saja berkata-kata, sembarang perempuan bisa tersinggung jika ia hanya menyebut target ujarannya sebagai “perempuan”. Takut mati, kilahnya. Jika si target tersinggung, ular di tubuhnya akan balas dendam, katanya lagi.

Advertisements