Cerpen M. Arif Budiman (Minggu Pagi No 05 Th 72 Minggu I Mei 2019)

Tamu Bernama Angin ilustrasi Minggu Pagiw.jpg
Tamu Bernama Angin ilustrasi Minggu Pagi 

Pagi di penghujung musim kemarau. Angin mengetuk-ketuk pintu rumah Ribut. Ia seolah menyengaja datang ketika si pemilik rumah masih tidur. Hingga kemudian Ribut bangun dan tergagap.

Sepasang kaki tua Ribut tertatih-tatih ke arah pintu. Menjawab keraguan yang tiba-tiba menyergapnya.

“Kau kah itu?” tanya Ribut dengan suara parau. Namun tak sepatah kata pun keluar dari balik pintu. Angin seolah ingin mempermainkan perasaan Ribut.

“Kau boleh pergi jika hanya ingin bermain-main denganku, Kar!” ucap Ribut, sedikit dongkol. Pada pikirannya orang yang mengetuk pintu adalah Sikar, kawannya.

Setelah tak ada jawaban dari luar, perlahan Ribut membuka pintu. Saat itulah tiba-tiba angin merangsek masuk dengan paksa. Ribut pun terhuyung mundur beberapa langkah. Kemudian berlindung di balik pintu.

Sesaat kemudian suasana menjadi keruh. Angin memporak-porandakan seisi ruangan. Melemparkan barang-barang ke segala penjuru ruangan. Membanting beberapa perkakas hingga berderai.

“Beginikah caramu bertamu pada seorang tua yang tak berdaya?” lamat-lamat suara Ribut terdengar diantara deru angin.

Seperti mengerti apa yang dikatakan Ribut, tiba-tiba angin berhenti membising, namun sesekali bersiul.

“Baguslah kalau kau mengerti.”

Perlahan Ribut keluar dari balik pintu. Dilihatnya barang-barang di ruang tamu terserak di lantai. Pikirannya berubah kecut. Ditariknya napas dalam-dalam.

Lalu duduk di kursi pada salah satu sudut ruang tamu.

“Tak adakah cara yang lebih bijak dalam bertamu? Aku akan sangat bahagia jika kau datang dengan cara yang lebih halus.”

Tak ada jawaban dari angin. Suasana lengang. Seekor cicak gagal menangkap lalat, lalu berdecak dan lari ke balik jam dinding.

“Kau dendam padaku?”

Angin mengibas sebuah sendok di ujung meja, lalu jatuh berdenting.

“Jika peristiwa tempo hari adalah salahku, maka aku minta maaf.”

Angin masih juga tak memberi jawaban.