Cerpen Irul S Budianto (Rakyat Sultra, 29 April 2019)

Membakar Setan ilustrasi Rakyat Sultra.jpg
Membakar Setan ilustrasi Rakyat Sultra 

Sudah beberapa hari ini Bardi tampak tidak seperti biasanya. Dia sering terlihat memunguti dan membersihkan sampah atau segala kotoran yang ada di rumah dan pekarangannya. Seperti tidak kenal lelah. Ibaratnya, melihat dedaunan yang rontok dari pohon atau sampah sedikit saja pasti akan segera dibersihkan, lalu dimasukkan ke kantong platik atau langsung dibakar.

Padahal sebelumnya, lelaki dengan postur tubuh tinggi kecil itu jarang sekali melakukan pekerjaan itu. Bahkan bisa dibilang terlalu malas dan tidak begitu peduli dengan yang namanya sampah yang ada di sekelilingnya. Meski di rumah atau pekarangannya terdapat sampah yang menggunung sekalipun, dia tidak peduli. Paling hanya dilihat sekilas dan dibiarkan begitu saja. Jika sudah demikian Siti, istrinya yang harus menyapu dan membersihkannya.

Suatu sore ketika pulang dari sawah Bardi merasa geram sendiri melihat pemandangan yang ada di depannya. Dedaunan kering dan sampah lainnya berserakan di halaman, teras dan sekeliling rumah. Bardi pun cepat-cepat mengambil sapu, lalu membersihkannya dan kemudian dikumpulkan di dekat rumah.

“Daripada mengganggu pandangan mata dan mendatangkan petaka, lebih baik aku bakar saja,” gumam Bardi. Tidak lama kemudian dia pun mengambil korek api dari saku celananya, dan sesaat kemudian sampah yang telah dikumpulkan itu sudah berkobar dilalap api.

“Setan, cepat kau pergi yang jauh. Tempatmu bukan di sini!” gumam Bardi lagi sambil sesekali tersenyum sendiri melihat sampah yang baru saja dibakar.

Terbawa angannya yang ingin cepat-cepat membereskan sampah di rumahnya, Bardi sama sekali tidak menduga jika kobaran api itu sempat menjilat gedek rumahnya hingga terbakar sebagian. Kejadian itu pun sontak mengundang warga kampung di dekatnya untuk mendekat dan membantu memadamkan amukan api itu.

Tetapi anehnya, melihat sebagian gedek rumahnya yang terbakar itu Bardi justru hanya diam saja. Dia tetap berdiri mematung dan matanya tidak berkedip melihat kobaran api itu. Bahkan ketika orang-orang tengah berusaha dengan sekuat tenaga untuk memadamkan kobaran api, Bardi justru berkata agak keras, “Setan, cepat kau pergi dari sini!”

Advertisements