Cerpen Anggoro Kasih (Analisa, 28 April 2019)

Tenggelam di Matamu ilustrasi Toni Bw.jpg
Tenggelam di Matamu ilustrasi Toni B/Analisa

ADA beberapa hal yang gemar kutatap. Seperti, kunang-kunang, hamparan hijau sawah, ombak yang bergulung-gulung di pantai, lampu temaram kota dan senja. Namun ada sesuatu yang paling kusukai dan mengalahkan semua itu, sekaligus membuatku betah menatapnya berlama-lama: matamu.

Malam ini, setelah mandi, aku mengenakan pakaian terbaikku. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku harus bertemu denganmu, namun aku tetap harus bolak-balik menatap diriku di cermin. Berusaha untuk penampilan terbaikku. Aku melakukan itu karena baru saja membaca sebuah buku. Di salah satu bab buku tersebut tertulis, Suatu Hari Cinta Harus Diperbaharui.

Setelah membaca buku Yuditeha yang berjudul Kotak Kecil untuk SHI itu aku memperoleh beberapa kesadaran akan cinta. Aku menyesal karena andai saja aku membaca buku itu dari dulu, mungkin aku akan lebih peka terhadapmu dan hubungan kita tak akan seperti sekarang ini.

Aku baru sadar. Ketika kamu menjadi milikku, harusnya aku tetap menjaga keromantisan kita, dengan tetap memberimu buket bunga dan beberapa puisi dari penyair ternama. Bukannya malah berlaku seenaknya karena merasa kamu sudah menjadi milikku dan beranggapan bahwa kamu tidak mungkin berpaling ke pria lain.

Setelah benar-benar yakin dengan pakaian yang kukenakan, aku menyemprotkan parfum yang tinggal sedikit. Baru beberapa semprotan saja, botol parfum itu sudah benar-benar kosong. Aku sejenak menunduk­kan kepala untuk mencium badanku. Paling tidak sudah sedikit wangi, gumamku.

Tanganku meraih handphone dari atas meja. Melihat jam sekaligus fotomu yang terpampang di sana. Kamu nampak tersenyum, dengan rambut yang dikuncir model kuda, kamu terlihat mempesona. Apalagi di sana kamu mengenakan kaos merah yang semakin menegaskan bahwa kulitmu benar-benar putih bersih. Ya, meskipun aku tahu fotomu itu sempat kamu edit, tapi bagiku kamu tetap manis, nomer dua setelah Isyana Sarasvati.

Advertisements