Cerpen Pangerang P Muda (Padang Ekspres, 28 April 2019)

Surat-surat Tuan Zeeman ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Surat-surat Tuan Zeeman ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

SEPERTI Bapak Hakim dan Bo, ia pun mendapat surat. Sudah ia baca berulang-ulang, dan ia berpikir tidak ada hal yang mengharuskannya menghadapi persidangan. Saat kurir datang menyodorkan surat untuknya, ia berkata dengan maksud meminta pula surat untuk Bo, “Anjing itu di sini, menua bersamaku.”

Si kurir tersenyum, menghadapkan wajah ke bagian depan amplop surat. “Saya bacakan,” ucapnya, “Untuk: Bo, dengan alamat: Bapak Hakim…. Jadi jelas, ke mana surat ini harus saya antarkan, bersama surat untuk Bapak Hakim sendiri.”

Dugaan kedua surat itu yang menjadi pokok masalah membuatnya mengadu tungkai dengan kaki-kaki Bo menuju rumah Bapak Hakim. Ia mengenal hakim itu, dan merasa tidak salah bila datang bertanya.

Telah seratus meter jalan setapak di sisi sungai ia susuri. Tungkainya terasa mulai terkunci. Berkali-kali ia merutuki usia tuanya, sebanyak ia merutuki masa lalunya. Begitu diberi tahu harus menghadapi persidangan, ia terus menyumpahi surat-surat dari Tuan Zeeman Vanderveer itu.

Dulu ketika Tuan Zeeman melarikan diri, Bo masih berupa anak anjing. Ke mana-mana Tuan Zeeman suka menggendongnya. Anak anjing itu ditinggal karena larangan tidak boleh membawa hewan ke atas kapal. Dan anjing yang ia pelihara dan besarkan itu sedang tertatih bersamanya, mulai mendaki ke atas jembatan.

Rumah Bapak Hakim berada di sisi lain dari tepi sungai yang ia susuri. Ia harus berputar, melewati jembatan baru berbelok kembali ke sisi sungai yang ada di seberang. Seraya mendengking riang, Bo mengiringi.

Kala ketuk ujung tongkatnya sudah menaiki undakan kayu ke lantai beranda, Bo mendahului, lalu melorot seakan bersimpuh di depan tuan rumah yang duduk di kursi beranda. Anjing tua bertubuh kecil itu seperti paham situasi yang sedang terjadi.

“Anjing tak dapat berbicara, makanya tak bisa berbohong,” sergah tuan rumah, wajahnya terlihat memiuh di balik kepul asap tembakau. “Dan entah kenapa, Tuan Zeeman mengirim pula surat untuknya.”

Coba ia atur napas. Bapak Hakim belum menyilakan duduk, makanya ia sandarkan tubuh pada tiang beranda, dan tongkatnya dijadikan penopang sebagian berat tubuhnya.

Advertisements