Cerpen A Zakky (Solo Pos, 28 April 2019)

Silam ilustrasi Solo Posw.jpg
Silam ilustrasi Solo Pos 

“Kamu dengar suara itu?” Pak Tua bertanya sambil membangunkan istrinya. Saat itu pukul sebelas malam.

Istrinya lelap dalam kantuk yang sangat, hanya menanggapi dengan gelengan kepala. Pak Tua coba membangunkan istrinya lagi.

“Ada suara orang bermain biola, kamu dengar?”

Sedikit kesal, si istri akhirnya membuka mata. “Tidak, aku tidak dengar apa-apa,” jawabnya malas.

Suara itu masih terdengar. Pak Tua. Ia dibuat penasaran. Kantuknya hilang. Suara itu jelas sekali. Tampaknya berasal dari salah satu ruang di rumahnya.

Didorong rasa penasaran, Pak Tua keluar kamar. Ia mencari tahu dari mana suara biola itu berasal. Pendengarannya belum bermasalah, suara itu jelas bukan berasal dari televisi atau radio. Sebelum tidur, ia juga sudah memeriksa semua: kompor, jendela, pintu, setrika, televisi. Itu sudah jadi kebiasaannya sejak dulu.

Pak Tua berjalan menyusuri ruang tamu dan ruang keluarga. Suara itu semakin jelas. Ia melewati lorong menuju bagian belakang rumah. Suara biola makin jelas. Ia tiba di depan sebuah ruang yang ia gunakan untuk menyimpan koleksi buku-buku, ia menyebutnya perpustakaan kecil. Di depan perpustakaan kecil Pak Tua berhenti, ia yakin dari sanalah asal suara itu.

Pelan-pelan Pak Tua membuka pintu perpustakaan kecil. Jantungnya kini berdetak tak keruan. Ia tak bisa menutupi raut wajah penuh ketakutan. Namun rasa penasarannya lebih besar. Pak Tua memegang gagang pintu perpustakaan kecil. Ia memutarnya pelan-pelan. Tepat saat pintu itu terbuka, suara orang bermain biola itu lenyap.

Keringat sebesar biji jangung berlelehan di pelipis Pak Tua. Ia menghela napas panjang. Dinyalakannya lampu perpustakaan kecil. Ia periksa sekeliling. Tak ada apa-apa. Hanya saja ada satu buku tergeletak di lantai. Tampaknya terjatuh dari rak tempatnya disimpan. Pak Tua memungut buku itu. Membaca judulnya, ada yang berdesir di dada Pak Tua. Ah, buku itu! Rupanya aku masih menyimpannya, batin Pak Tua. Pak

Tua mematikan lampu perpustakaan kecil lalu meninggalkan ruangan itu. Ia lantas kembali ke kamar tidur. Meski sudah berbaring dan bersiap tidur, Pak Tua tak kunjung bisa memejam mata. Sekian tahun tinggal di rumah itu, ia tak pernah mengalami kejadian ganjil seperti yang dialaminya malam ini. Ia berpikir keras. Apa makna semua ini? Ia terus berpikir hingga akhirnya terlelap.

***

Advertisements