Cerpen Mutia Rahmah (Analisa, 28 April 2019)

Seekor Lumba-lumba Menyeretnya Menuju Samudera ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw
Seekor Lumba-lumba Menyeretnya Menuju Samudera ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

BEGITULAH bunyi sumpah Patih Gajahmada, seorang negarawan dari Kerajaan Majapahit yang sangat terkenal pada masanya. Sumpah penyatuan atau sumpah penaklukan? Entahlah. Tiba-tiba saja aku teringat pada kalimat sumpah yang pernah kubaca di salah satu buku semasa kuliah dulu. Kebetulan aku menempuh pendidikan formal di jurusan sejarah salah satu perguruan tinggi di kota ini.

Kuanggap suatu kebetulan, sebab aku tak menginginkannya. Kebetulan itu menjadi suatu keharusan, ketika aku sadar, segala yang sudah terjadi adalah sebuah keharusan. Pada akhirnya kupikir kebetulan itu tidak ada.

“Kau tau? Nenekku sering menceritakan tentang kisah Putri Hijau. Katanya dia adalah seorang putri sangat cantik jelita. Sungai ini adalah jalan yang dilalui salah seorang saudaranya yang berubah menjadi seekor naga. Naga membawa sang putri keluas samudera.” Bocah itu terus mengoceh sembari tangan kirinya mengayun-ayunkan boneka lumba-lumba berwarna biru.

“Benarkah? Tidak begitu de­ngan yang kupelajari. Dia adalah seorang putri dari Kerajaan Haru yang ingin ditaklukkan oleh Majapahit. Sungai ini dahulunya bernama Lau Petani. Saudaranya juga tidak berubah men….”

“Ah. Dongengmu terlalu membosankan. Apakah cerita-cerita kalian para orang dewasa selalu membosankan seperti itu?” Potongnya cepat sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

Aku terdiam seketika, kemudian tersenyum melihatnya. Mungkin benar perkataanya. Dongeng yang indah tiba-tiba berubah menjadi bayangan mengerikan ketika kedewasaan itu muncul. Bahkan makhluk seindah putri duyung bisa menjadi sosok yang teramat menyeramkan.

Advertisements