Cerpen R. Amalia (Radar Banyuwangi, 28 April 2019)

Pohon Keluarga ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg
Pohon Keluarga ilustrasi Radar Banyuwangi 

SUDAH sejak lama aku ingin menanyakan hal ini pada ibu. Dan setiap kali aku ingin bertanya kepadanya, hal itu selalu urung. Bukan lantaran aku tak berani bertanya, tetapi selalu tak ada waktu yang menurutku pas untuk bertanya. Ditambah raut muka ibu yang berubah setelah aku mulai menyinggung masalah keluarga. Hal itu membuatku tak tega. Namun, seperti gayung bersambut, tugas sekolah telah membantuku untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. Maka dengan mudah aku meminta ibu untuk bercerita tentang asal-usulku.

Apalagi teman-teman di sekolah begitu jahil ingin tahu mengapa wajahku sama sekali tak mirip dengan bapak atau ibu. Sebenarnya aku ini keturunan siapa. Tak satu pun bentuk wajahku yang menurun dari keduanya. Aku memiliki bentuk rupa sendiri yang membuatku sebenarnya ingin tertawa geli. Apalagi setelah tahu apa yang terjadi.

Pertanyaan ini dimulai dari Junet. Ia memang terkenal dengan kejahilannya yang ampun membuat pusing seluruh isi sekolah. Saat itu aku lupa membawa buku yang berisi tugas tentang pohon keluarga. Awalnya aku enjoy-enjoy saja, tetapi semakin jauh semakin membuat panas telinga. Bila mendengar bualan dan umpatan Junet, rasanya seperti ditikam-tikam sebilah pisau dan ngilu. Ia juga terus-terusan melancarkan kejahilan yang membuatku sampai tak ingin masuk sekolah. Sementara di sudut bangku kelas, ibu guru menemukan aku sedang menutup muka. Aku menyembunyikan diriku yang sedang menangis karena kejahilan yang dilakukan Junet. Junet sendiri tak lain adalah kawan sekelasku waktu TK. Padahal dulu ketika TK, tak ada tanda-tanda Junet akan menjadi buah bibir orang-orang di sekolah. Entah mengapa, kini dia justru menunjukkan sisi dirinya yang membuat orang lain jadi bertanya-tanya.

“Kamu itu anak pungut!” Suara Junet keras hingga menggetarkan gendang telinga, tetapi tak lebih keras daripada kecamuk hati dalam dada. Kepalaku mendidih. Barangkali melebihi panasnya terik matahari dan inilah kali pertama aku berubah serupa Dewi Durga yang ingin menuntut keadilan di sekolah.

“Jaga mulutmu!” teriakku tegas pada Junet yang berdiri tepat di hadapanku. Jari telunjukku mengarah tepat di mata Junet yang sewaktu-waktu dapat kulukai matanya.

“Ini sudah keterlaluan,”suaraku agak menekan sambil mengatur napas dan berusaha menguatkan pandangan, serta hati di antara puluhan orang di kelas.

“Lalu kamu mau apa?” katanya santai menanggapi kata-kata yang keluar dariku.

Advertisements