Pertanyaannya terlontar lagi, kali ini sedikit pelan. Aku diam beberapa saat. Dia membuat pertanyaan yang dia sendiri tau jawabannya. “Aku memang lama tidak menulis. Tapi bukan berarti aku berhenti. Hanya saja, di antara jembatan waktu yang cukup panjang. Terlalu banyak hal yang berubah. Termasuk tentang puisi, dan mungkin kamu lebih tau jawabannya.”

Aku beranjak. Meninggalkannya yang memaku, memandang jauh bentangan sawah yang ujungnya diakhiri bukit. Tempat yang begitu lama ia lupakan. Ruang dimana kami bertempur. Membaca dan menulis. Terkadang juga bermain. Berlarian di atas pematang. Membajak. Mencari jangkrik di waktu malam. Atau berburu belalang ketika musim hujan. Dan beberapa kali ketika musim ulat besi, kami selalu bersama. Tidak ada musim yang tidak menarik dengannya. Aku yakin dia juga sedang mengingatnya saat ini.

Aku bergegas masuk rumah. Membuka korden, mengambil sesuatu di dapur. Aku tahu ia harus minum kopi. Ia jarang tidur. Dan hari ini aku kira ia juga belum tidur. Matanya redup, ada warna lebam di bawahnya.

Tidak lama, aku kembali, sudah dengan dua gelas kopi. Kopi kami selalu berbeda. Bukan perkara merk, tapi karena aku tidak pernah suka kopi pahit.

“Ini buatmu. Tiga sendok bubuk, tanpa gula.” Dia tersenyum. Aku tahu sekali ia suka kopi pahit. Baginya tidak ada waktu tanpa kopi pahit. Ia suka minum kopi saat pagi dan malam hari, sambil menghisap rokok kretek. Dulu pernah ia berkata bahwa kopi hanya bisa dinikmati dalam keadaan pahit. Jika ada gula, sudah tidak ada yang bisa dinikmati. “Orang-orang lebih suka yang begitu, yang tidak lagi terasa pahitnya, karena memang mereka tak paham menaikmati kopi.” Celetuknya waktu itu.

“Kau masih tidak suka kopi pahit?” sahutnya, “Artinya, kamu belum juga paham cara menikmati kopi. Sama seperti puisimu yang selalu gagal menangkap momen puitik. Puisimu tidak pernah benar-benar terasa pahit perihnya.”

Aku diam saja. Rasanya aku tidak juga sepaham dengannya. Ini hanya tentang kopi, bukan puisi. Lebih-lebih bicara puisi sama seperti berdebat soal selera. Aku juga tidak pernah setuju dengan puisi-puisinya, yang tak lebih dari duplikat Rendra. Kata-katanya nampak vulgar dan memaksa.

“Kamu memang tak pernah berhenti mengkritikku.”

Mendengar ucapanku dia hanya tertawa. Ia selalu merasa puas melakukannya. Tidak peduli aku marah dan tak suka. Tapi aku tahu, itu adalah caranya. Ia mengatakan sesuatu dengan cara yang tak banyak orang sukai. Tapi aku belajar menyukainya. Mengakrabi caranya menempeleng seseorang dengan kata-kata.

“Aku bawa oleh-oleh untukmu.” Ia membuka tas, mengeluarkan tiga bungkus kopi bubuk. Aku menerimanya, lantas aku berjalan ke pawon, memasukkan oleh-oleh itu ke lemari kayu.

Advertisements