Ia mengajakku dan Asni menuju gubuk tempat pekerja beristirahat. Di sela-sela langkahnya, sempat ia bercerita tentang banyak tanah warga yang diserobot dan diganti rugi untuk dibuat proyek. Dalam pengertian, tanah itu memang diganti, tapi tetap saja rugi. Itu pun masih dikategorikan untung sebab sebagian tanah tempat pohon-pohon nira tumbuh mungkin sudah punah, disulap begitu saja menjadi lahan pabrik dan proyek permukiman.

Sebenarnya ingin sekali aku menumpahkan ribuan pertanyaan yang memberati kepala kepada Kalan, tetapi tak bisa. Semuanya seperti menggumpal di tenggorokanku, seakan disumpal oleh waktu yang memisahkan kami. Ingin sekali aku menumpahkan ribuan kemarahan yang menyesaki dada, tetapi kepada siapa? Seiring cakrawala meremang, senja yang terpampang tampak begitu muram, kelam, dan tak berpengharapan.

 

Yogyakarta, 2019

Abdul Hadi bernama lengkap Muhammad Abdul Hadi, lahir di Loa Deras, Kalimantan Timur, jurnalis kampus, dan bergiat di komunitas baca Yogyakarta. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia juga menulis cerpen dan esai untuk dikirimkan ke media massa, baik lokal maupun nasional. Saat ini ia beralamat di LPM Ekspresi, Jl. Colombo No.1 Gedung Student Center Lt.2 Sayap Timur Universitas Negeri Yogyakarta 55281