“Ya, aku akan ke sana. Kalau perlu aku juga akan mengajakmu serta.”

“Sebenarnya aku juga penasaran dan ingin melihat kampung halaman yang sering kau ceritakan itu.”

***

Sudah berapa lamakah aku meninggalkan kampung halaman? Aku sudah pangling. Namun, pertama kali aku mengin jak kan kaki kembali, tampak di hadapanku sebuah kampung yang asing. Beberapa yang kukenali dulu adalah semak dan belukar yang hening kini telah disulap menjadi metropolis yang serba gemerlap, benderang, dan bising. Tak ada lagi lahan kosong seperti dulu. Di tengah deru kendaraan, lengkingan para pencari rotan serta siulan-siulan para bocah terngiang kembali di benakku.

Aku bersama Asni terus melangkah menyusuri jalan sempit yang tak cukup lebar menampung banyak kendaraan. Tampak di ujung sana diadakan proyek perluasan. Suara kendaraan yang berseliweran di sebelah kiriku juga terdengar sangat nyaring. Namun, semua itu tak aku pedulikan. Kini, tak ada lagi hutan. Tak ada lagi rawa. Tak ada lagi pohon-pohon yang dulu kerap kami panjati. Tak ada lagi setiap rumah yang mengolah gula merah. Kini, seakan aku mengais-ngais sisa kenangan yang dulu pernah bersemayam pada masa kanakku. Semua seperti pupus dan berlalu.

Di tengah pengerjaan proyek, tempat semen diaduk-aduk, tampaklah lelaki jangkung yang menarik perhatianku.

“Kau Kalan?” teriakku, setelah yakin bahwa mataku tak salah melihat.

Lelaki itu menatap ke arahku beberapa jenak lamanya. Kami saling memandang. Saling menimbang kebenaran penglihatan. Lalu ia berlari mendekat ke arahku. Lupa dengan pekerjaannya. Beberapa buruh sempat mengawasi melanjutkan pekerjaan mereka yang tampaknya serba melelahkan.

“Kapan kau datangkah? Tak bawa kabar, mentang-mentang jadi orang kota, lupa kau pada kampung sendiri,” cecarnya beruntun, tanpa memberiku jeda untuk menanggapi.

Kuperkenalkan Kalan kepada Asni. Dia inilah salah satu dari kawanku yang bersikeras untuk bertahan di kampung. Dari pertemuanku yang singkat itu, banyak tergali lagi kenangan dan masa lalu. Meski sepintas, aku dapat melihat gurat kesengsaraan di wajah kawanku itu. Begitu berbeda dengan wajah-wajah yang ada di balik rumah-rumah mewah yang mulai berdiri di pemukiman belakang mereka.

“Begitulah keadaan kampung kita,” ujar Kalan serba salah. Aku tak tahu harus menanggapi apa.