Sorot mata yang sejak kecil kerap kujumpai. Sorot mata penuh rasa tamah ketika memandang kami bermain-main di tepi ladang. Bagi anak nakal seusiaku dulu, sorot mata itu amat menenangkan. Tak mem beri kami rasa khawatir mendapat amarah karena tingkah menjengkelkan yang kami lakukan. Di sanalah, ketika mata-mata itu lengah, kami kabur menerobos bekas ladang yang penuh belukar. Menjelajahi perdu dan terpesona pada beraneka-ragam pohon tak bernama yang tinggi menjulang. Di hampar belukar yang penuh perdu itulah pohon-pohon nira tumbuh subur, orang-orang kampungku leluasa memilih pohon mana yang akan mereka pilih ditampung air sarinya untuk mengolah gula merah.

Sejak aku teringat kampung halaman, akhir-akhir ini aku selalu menyempatkan diri membeli beberapa buah gula merah. Memakannya di sela-sela kesibukan kerja membuatku kembali bergairah. Aku ternyata masih suka mencampurkan sepihan-serpihan gula merah pada secangkir teh yang kuminum saban pagi. Dan aku sadar….

Pola hidupku berubah hanya karena beberapa potong gula merah.

Entahlah, aku seolah terikat dengan kenangan itu. Kenangan masa kanak yang terkubur bersama manisnya gula dan kini kugali kembali. Sewaktu sari nira masih terjerang di tungku besar, sewaktu buih-buih lengketnya masih mendidih-didih, sewaktu itulah kami kerap memasukkan beberapa butir pisang ataupun ubi kayu yang telah dikupas kulitnya ke dalam jerangan yang masih meluap-luap. Dan sewaktu ayah kami mengangkat jerangan dan mengaduk-aduk adonan yang mulai kental, kami telah dihidangkan dengan pisang atau ubi matang yang lezat tak terkira. Kenangan-kenangan manis itu mengendap di kepalaku. Apalagi, ketika kami berlarian di sela-sela gula merah yang panas dan kental ketika sedang di keringkan di pencetakan, kami kerap mengerik-ngerik kerak gula yang masih tersisa atau tumpah ketika adonan dituangkan. Kami selalu menghirup aroma gula yang khas, sepanjang malam, ketika anggota keluarga berkumpul membungkus gula yang bagus untuk dijual. Aroma itulah yang lengket di tubuh kami, menempel sepanjang hari, sampai kami lelap di pembaringan.

Namun, setelah banyak pabrik yang berdiri membuang limbah sekenanya, banyak pohon nira menjadi rusak dan tak dapat digunakan. Pokoknya tak mati, tapi juga tak layak hidup, sarinya menjadi masam, dan tak lagi bisa diolah menjadi gula.

Setelah banyak protes yang diutarakan tak lagi berguna, orang tuaku membawaku ke kota. Kami menjual tanah untuk kemudian pindah. Banyak pemuda di kampungku yang sakit hati, memilih pergi mengadu nasib, merantau, dan meninggalkan desa. Kami kehilangan masa lalu dan terpaksa merelakannya.

“Kalau kau merasakan di gula merah itu, ada ruap kampung halamanmu, ada baiknya kau mengunjunginya sewaktu-waktu. Bukankah sudah lama sekali kau meninggalkan tanah kelahiranmu itu?” ujar Asni menimpali.