Setiap pagi merayap, seiring kokok ayam, dan pekik sorak pencari rotan, mereka—para penduduk—berangkat menuju ladang. Lelaki pada masa itu pandai mengolah rawa yang penuh perdu menjadi jajaran sawah, membelah semak yang menyesaki padang, kemudian menyulapnya menjadi ladang-ladang subur, siap untuk dicocok tanam. Namun, sebelum berangkat ke sana, para pemuda terlebih dahulu meletakkan tabung bambu di bahu mereka, menerobos pagi yang masih berselimut embun, seperti tentara yang lelah terjaga sambil meletakkan selongsong senjata di pundak mereka.

Di pinggir-pinggir hutan, telah tampak batang-batang pohon nira yang menunggu untuk ditampung air sarinya. Dengan buaian Subuh yang masih remang, mereka menderes tangkai nira dan mengganti tabung bambu yang penuh terisi air sari dengan bambu baru yang akan kembali terisi dan akan terus terisi, lalu diambil di sore harinya. Kemudian mereka pulang membawa banyak sari nira ke gubuk-gubuk tempat pengolah manisan dan memasaknya hingga utuh menjadi gula merah. Di bawah cipratan cahaya lentera, diserakkanlah gula-gula telanjang tersebut di ruang keluarga, lalu dipilah mana yang layak dan tidak serta dibungkus untuk dijual ke esokan harinya.

Keadaan akan tetap stabil di sepanjang musim. Apabila musim panen padi telah berlalu dan kemarau akan menjelang, rotan-rotan meranggas, pohon-pohon pisang tak lagi berbuah, sayur-mayur tak kunjung subur, atau banjir tahunan menggenang (karena kampung kami bertempat di dataran rendah), pohon-pohon nira tetap saja tumbuh dan bertangkai. Pohon nira adalah pohon yang sabar dan selalu menjadi pokok harapan. Hampir setiap rumah di kampung kami adalah pembuat atau pengolah gula merah.

Maka, tak heran jika kami mendengar dari mulut ayah-ibu kami bahwa tak ada satu pun orang di kampung yang merasa kekurangan. Hidup mereka nyaman dan tenang. Beberapa dari kami memang tetap miskin, tapi kami tak pernah merasa terhina. Rasa damai dan sejahtera seolah selalu ada meski kami tak pernah benar-benar menjadi kaya.

***

Sejak bertahun merantau, aku telah terperangkap dalam hiruk-pikuk metropolitan. Entah berapa lama sudah aku tak lagi sempat mengingat tanah kelahiran. Arus rutinitas memaksaku menjalani hidup yang monoton. Dan nyaris di setiap akhir pekan, aku menghibur diri melepas kejenuhan. Itulah, mungkin akhir pekan lalu yang memaksaku untuk kembali mengingat kampung kelahiran. Sejak bertemu kakek tua penjaja gula merah itu, aku seperti melihat sorot mata yang teduh seperti sorot mata orang-orang kampungku.