Cerpen Muhammad Abdul Hadi (Republika, 28 April 2019)

Nostalgia Gula Merah ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Nostalgia Gula Merah ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Di hadapan kami, terhampar pasir putih yang indah, sebuah teluk, sebuah pantai yang permai, bagai memeluk daratan yang menjorok ini. Lalu kami berjalan menuruni bagian pantai yang landai, menapakkan kaki telanjang kami ke hamparan pasir tembaga yang terpapar senja. Kami berjalan pelan, terus sambil membiarkan kaki-kaki kami terbelai ombak yang meriak-riak letih, menatap pohon-pohon kelapa yang gemulai melambai-lambai, bagai berharap menunggu kekasih.

“Asni, kita ke sana, yuk!” ajakku kepada wanita di sampingku.

“Sekarang?”

Aku mengangguk sambil menggamit tangannya. Lalu kami berjalan menaiki undakan, mengikuti anak-anak tangga yang tersusun dari jejalan batu yang tak beraturan. Setelah beberapa jenak, berhenti menatap lelaki tua yang memakai ikat kepala sambil menjajakan manisan dan gula merah. Aku pun menghampiri. Asni mengikuti, mengiringiku dari belakang.

Setelah bercakap beberapa patah dengan lelaki tua itu, kami membeli dua buah gula merah, kemudian duduk di bawah gubuk sambil menatap hamparan biru yang terbentang hingga ujung cakrawala. Sambil mencicipi gula itu, aku memejam, merasakan aroma khas dari sari pohon nira. Indra penciumanku menjelma menjadi demikian peka, aku merasakan pikiranku mengembara ke suatu tempat.

“Seperti di kampung halaman…” Aku menggumam sendiri.

“Kau merindukan kampung halaman?” tanya Asni.

“Ya, aku merindukan tanah yang telah memelihara dan menemani masa kanak-kanakku. Di sana juga ada pasir putih, lambaian daun kelapa, dan gula merah, tapi tak ada laut seperti ini.”

***

Kampung halamanku, di Kalimantan dulu, pada suatu kurun waktu, penuh dengan ruap aroma gula merah. Tanahnya kaya, memendam banyak barang tambang dan minyak mentah. Di atasnya pohon-pohon rindang menyimpan banyak rawa di belakang hutan. Permukiman penduduk membujur mengikuti kelokan sungai. Dari sana, akan tampak jajaran rumah panggung yang memanjang di sepanjang aliran hingga pangkal muara.

Advertisements