Cerpen Haryo Pamungkas (Kedaulatan Rakyat, 28 April 2019)

Memungut Rintik Hujan ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Memungut Rintik Hujan ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

AKU kira, kekacauan memang tak mesti dimulai dari sesuatu yang besar dan mengerikan. Sebab seminggu lalu, seorang laki-laki paruh baya bilang kepada orang-orang bahwa ia bisa memungut rintik hujan. Seperti kena teluh, beberapa orang membenarkan dan ikut mempercayainya. Bahkan beberapa tokoh dan orang-orang penting pun ikut membenarkan. Meski beberapa tidak, tapi tetap saja, hujan yang semula sederhana; sebatas air tumpah dari langit berubah menjadi persoalan serius. Dan dari situlah kekacauan ini dimulai.

“Itu sama sekali tak masuk akal …” kataku.

“Tapi sungguh, ia memang bisa memungut rintik hujan.”

“Dengan tangannya?”

“Benar. Dengan tangannya. Laki-laki itu benar-benar ajaib,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala seolah-olah benar-benar mengagumi keajaiban yang jarang.

“Kau pernah melihatnya, dengan mata kepalamu sendiri?”

“Hmmm sebenarnya belum. Tapi aku benar-benar percaya,” jawabnya singkat.

“Kalau begitu kau sama sintingnya! Kalian hanya delusi, berhalusinasi,” tegasku. Matanya nanar menatapku. Mata itu, seperti mata orang-orang lain yang percaya bahwa di dunia ini rintik hujan benar-benar bisa dipungut!

“Banyak ahli dan peneliti hujan bilang ia cuma ngibul, bahkan para penyair yang konon dekat dengan hujan pun berkata sama. Kenapa kau masih percaya?” gumamku.

“Kau, dan orang-orang itu sama bodohnya! Kalian itu hanya digiring supaya menolak fakta. Sudahlah, tinggal percaya memang apa susahnya? Di dunia ini tak ada yang tak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Dan laki-laki itu, semacam dapat ilham sehingga tangannya bisa memungut rintik hujan, titik!”

“Baik, baik. Aku akan percaya dengan satu syarat: jelaskan bagaimana caranya dan tunjukkan di depan mataku.”

Advertisements