Cerpen Lina Herlina (Pikiran Rakyat, 28 April 2019)

TOLONG ilustrasi Rizky Zakaria - Pikiran Rakyatw.jpg
TOLONG ilustrasi Rizky Zakaria/Pikiran Rakyat

“SILAKAN, istirahat dulu di kamar ini,” kata Wak Nining. Saya masuk ke sebuah kamar sambil menarik koper. Saya terpana memandang pemandangan dari jendela. Giethoorn adalah sebuah kampung terpencil di Belanda. Belum ada jalan aspal yang benar-benar diandalkan untuk lalu lintas. Tadi juga saya sampai ke sini menumpang motor-boat.

“DI sini jalan-jalan ke perkampungan naik sepeda,” kata Teh Anita waktu chating di Facebook. “Kita bisa mencicipi susu hangat yang baru diperah atau sayuran yang masih segar.”

Saya sendiri belum lama tahu mempunyai Uwak yang sudah puluhan tahun tinggal di Belanda. Ibu, apalagi Enin dan Engki, belum pernah menceritakan Wak Nining. Juga saudara-saudara lainnya. Waktu saya berkenalan dengan Teh Anita juga awalnya tidak menyangka kalau dia itu kakak sepupu. Namanya juga kan Anita Wilhelm, orang Belanda. Tetapi setelah seperti yang hafal menceritakan keadaan kampung saya, bisa bahasa Sunda halus dan tahu kata-kata yang hanya dipakai di kampung saya, lalu mengaku punya tante bernama Ningsih, saya hanya bengong. Ningsih yang digambarkan dan diakunya tante itu kan ibu saya.

Tapi sudahlah, saya tidak akan terlalu panjang menceritakan itu. Kisah singkatnya, Wak Ningsih dulunya disakiti oleh suaminya. Dilamar, dinikahi, tetapi kemudian ditinggalkan. Setelah beberapa tahun menjanda, lalu dinikahi oleh Tuan Wilhelm, manager perkebunan teh Malabar. Enin dan Engki, juga saudara-saudara yang lain, tidak setuju. Ya, karena Tuan Wilhelm berbeda kepercayaan agama. Waktu Wak Nining sekeluarga pindah ke Giethoorn hubungan kekeluargaan putus sama sekali.

Teh Anita sering mengajak saya untuk datang ke Giethoorn. Jalur-jalur transportasinya diceritakan hampir setiap chatting. Malah kemudian Teh Anita membelikan saya tiket-tiket untuk perjalanan sampai ke Giethoorn. Makanya liburan sekolah tahun ini, setelah meyakinkan Ibu, Bapak, juga Engki dan Enin, saya berangkat ke Giethoorn. Hanya seorang diri, tetapi tentu dipandu oleh Teh Anita melalui Whatsapp.

***

Advertisements