Cerpen Oxandro Pratama (Singgalang, 28 April 2019)

Kedatangan tanpa Penantian ilustrwsi Singgalangw
Kedatangan tanpa Penantian ilustrasi Singgalang

Dengan posisi bersandar di bangku santai berwarna hijau, Dony tampak begitu menghayati film action yang sedang berlangsung di hadapan dua pasang bola matanya, walaupun mungkin setidaknya ia telah menonton film itu puluhan kali, atau mungkin lebih. Sedangkan di luar, angin malam semakin kencang berhilir mudik sehingga hawa dinginnya merayap kesana-kemari; menyelip di celah-celah pintu rumah; dan tak lama setelahnya, angin yang dingin dan kencang itu menjelma menjadi rinai, rinai yang sangat rapat, memabasahi segala yang ada di hadapan mereka. Suasana itu membuat waktu senggang Donny semakin terasa syahdu oleh bunyi rintik yang merentak-rentak di atapnya dan terdengar seirama. Juga sejuknya malam yang membinasakan masalah-masalah yang tak henti-henti mengejar dirinya, membebani pikirannya dan menyengsarakan jiwanya.

Permasalahan itu adalah permasalahan kondisi pasar. Di pasar, kehidupan sudah terasa berkecamuk baginya. Kebakaran yang menghanguskan satu-satunya kios yang ia miliki, membuatnya harus berlapak di pinggir jalan yang penuh debu dan kabut yang bertebaran, dihantam mobil yang tak henti-hentinya berlalu-lalang.

Untung saja setahun sebelum itu ia telah membeli mobil, murni dari hasil jual-belinya sebagai pedagang baju gamis, sehingga di saat seperti sekarang ini—saat-saat yang sangat cocok untuk dikatakan genting dan darurat—ia masih bisa berjualan di dalam mobilnya, walaupun terasa amat sangat tidak menyenangkan.

Tiga bulan ia berdagang di tepian pasar yang berkabut. Suka-duka sama sekali tak mampu terhindarkan olehnya, sehingga terkadang membuat ia dan istrinya semakin tak sabar menunggu rampungnya penampungan yang dijanjikan oleh penguasa daerahnya kota wisata itu. Penguasa yang di matanya amat sangat angkuh, otoriter, dan anti-dialektika.

Menghadapi situasi yang belum jelas tegak-duduknya, maka sudah jelas hal tersebut menjadi sebuah pikiran yang membebani setiap langkah dan aktivitasnya.

Sebuah pemikiran yang takkan pernah bisa ditinggalkan begitu saja meskipun ia berlari  ke ujung dunia sekalipun. Dan sebagai manusia, sudah jelas masalah yang dihadapi pun tidak sedikit. Terkadang satu masalah saja belum mampu terselesaikan, dan tiba-tiba masalah lain pun bermunculan dan seringkali lebih sulit dari masalah yang pertama. Begitulah kehidupan, sebuah kenyataan yang penuh dengan hal-hal yang sulit untuk diterima.

Advertisements