Cerpen Risya Marennu (Fajar, 28 April 2019)

I Marabintang ilustrasi Fajarw.jpg
I Marabintang ilustrasi Fajar

“Marabintang… Oh.. I Marabintang…, kemaeki? Nakiomaki Karaeng,” teriak Permaisuri Somba Labbakkang. “Marabintang… Oh I Marabintang… di mana kau? Panggil ibunya.  Beliau sangat menyayangi putrinya itu.

Keponakan Sultan Hasanuddin itu sangatlah cantik, kulitnya putih, rambutnya panjang. Jika ia tersenyum membuat para pria jatuh hati padanya.   “Jika tersenyum bagaikan delima dibelah dua dan wajahnya yang bercahaya,” begitu kata orang-orang mengsimilekannya. Banyak pria keturunan bangsawan yang ingin meminangnya. Bukan hanya cantik, tapi sikap sopan, tegas dan kecerdasannya juga menjadi daya Tarik. Ia menguasai ilmu bela diri dan kanuragan sejak ia kecil.

Sejak kecil I Marabintang sangat aktif. Karaeng dan Permaisuri Somba Labbakkang juga tidak membatasi anaknya, memberinya kebebasan seperti bermain di kebun, sungai bahkan anaknya dibiarkan belajar di pacuan kuda. Tidak seperti anak perempuan lainnya yang belajar memasak, menenun, dan bermainnya hanya boleh seputaran balla saja.

Ketika Marabintang masih di dalam kandungan, ia sudah ditunangkan dengan I Mannakku, putra Raja Luwu. I Mannakku tumbuh menjadi pria dewasa. Cakap. Menguasai ilmu Kanuragan atau ilmu kebatinan yang dipelajarinya dari para pendekar. Salah satunya, yaitu Syekh Yusuf, Tuangta Salamaka. Ia putra mahkota yang nyaris sempurna, kebanggan kerajaan dan disayangi rakyatnya. Tetapi, ia merasa hidupnya belum sempurna tanpa pendamping hidup.

Raja Luwu duduk bersantai dengan istri terkasihnya. I Mannakku mendekat. Duduk bersilang di depan kedua orangtuanya itu. Isi hatinya ia utarakan. “Wahai Raja, bagaimana dengan kesehatan Raja dan Permaisuri belakang ini?” I Mannakku membuka percakapan.

“Yah…  syukur Alhamdulillah Allah Ta’ala masih memberi kesehatan. Bagaimana denganmu, Nak?” tanya Raja Luwu. Permaisuri yang berada di sampingnya mengangguk dan sambil tersenyum. “Alhamdulillah baik Raja,” jawabnya.

“Sepertinya ada hal yang ingin kau bicarakan wahai anakku,” tatap Raja pada anaknya.

“Raja memang ayahanda yang hebat, sampai mengetahui isi hati anaknya,” gelagak Mannaku sambil tersenyum.

Advertisements