Cerpen Ikhsan Hasbi (Serambi Indonesia, 28 April 2019)

Hologram ilustrasi Istimewaw.png
Hologram ilustrasi Istimewa

TADINYA kupikir tidak perlu turun lapangan untuk melihat langsung apa yang mereka kerjakan. Karena desas-desus dan ada hal yang mencurigakan, maka apa boleh buat. Tanggung jawab dan moralitas selalu jadi prioritas.

Pria yang mengenakan jas hitam memintaku untuk mengikutinya. Tanpa ia meminta pun, aku akan memintanya untuk membawaku melihat-lihat. Nanti kau akan mengerti apa maksudku melihat-lihat.

Aroma Charlie, aku kenal persis dengan seseorang yang memakai parfum yang sama. Dan kuharap orang ini tidak berakhir sama seperti orang-orang sebelumnya.

Dia menyuruh si supir plontos bergerak. Mobil melaju. Kulirik jam tangan, barangkali ini akan selesai lebih cepat. Lelaki itu mengumbar giginya yang rapi. Sepertinya rajin dipermak tiap bulan.

“Ngomong-ngomong Anda sudah lama bekerja seperti ini?”

“Kurang lebih sepuluh tahun.”

“Cukup berpengalaman, ya.”

Kupilih tersenyum. Pernyataan semacam itu tak perlu disambung. Orang ini bakalan mengulik seluruh bagian dalam hidupku. Aku tak pernah percaya. Dan hanya perlu mencari bukti untuk tidak mempercayainya. Pekerjaan semacam ini membuatku selalu memulai tugasku secara skeptis. Dan barangkali selamanya begitu.

Seorang bocah yang baru pulang sekolah melintas. Dituntun ibunya dengan jari terangkat agar tidak ada pengendara yang menerobos. Kami tepat di hadapan jalur itu. Sebuah baliho berukuran besar memampang wajah kepala dinas yang mengajak untuk menyukseskan program pemerintah. Anak-anak berbaju sekolah menengah membuatku ingat pada anakku.

Pria itu menyerahkan map merah. Aku merambati satu per satu lembaran yang penuh angka-angka. Pewangi mobil, aroma lavender, seperti pilihan buruk. Aku benci wewangian semacam ini. Apalagi angka-angka di hadapanku, membuatku tambah muak. Masuk akal di data, belum tentu kenyataannya. Bukti di lapangan kuprediksi akan berbeda.

Terbiasa dengan orang-orang bertampang penyulap, tidak lantas membuatmu tampak seperti penonton yang melihat itu sebagai hiburan semata. Aku akan berpikir bagaimana ia melakukan itu. Banyak orang yang menyadari sulap adalah kebohongan yang menarik. Mereka seperti lalat yang hinggap untuk membawa belatung-belatung nasib bagi orang lain. Orang tahu penyulap adalah pembohong. Mereka kreatif. Menipu mata. Tahu cara menarik perhatian. Lalu orang-orang pun tertarik. Tertarik pada kebohongan. Dan bagiku, orang di sampingku ini adalah pesulap gagal.

Advertisements