Cerpen Erwin Setia (Denpost, 28 April 2019)

Dunia Almira ilustrasi Mustapa - Denpostw.jpg
Dunia Almira ilustrasi Mustapa/Denpost 

SATU jam setelah ayah dan ibunya berangkat ke kantor masing-masing, sebuah dunia baru muncul di kamar Almira. Dunia yang sebetulnya hanya ada di dalam kepala mungil Almira, gadis berusia enam tahun yang menggemaskan. Tetapi dunia baru itu jauh lebih luas ketimbang dunia di luar kepala Almira, yang hanya seluas kamar dan seisi rumahnya. Ia tidak boleh keluar rumah. Sebab kata ibu, di luar banyak orang-orang jahat. Anak manis harus berdiam di rumah, rajin belajar supaya pintar, demikian ujar ayah.

Selain Bik Minah, yang hanya datang ke kamar Almira pada waktu makan, tidak ada siapa-siapa pada sepanjang hari Almira. Hanya tembok kamarnya yang penuh hiasan warnawarni, kasur empuk bertabur boneka, dan lemari berisi buku-buku bergambar yang sudah bosan ia baca. Hidup Almira sungguh-sungguh sunyi. Seperti sekuntum mawar yang dilemparkan ke suatu planet asing.

Namun segalanya menjadi lebih nyala dan tampak ramai begitu Almira memejamkan mata. Berawal dari situlah dunia baru Almira tercipta. Dengan mata terpejam, tubuh Almira bisa melenggang menembus gerbang rumahnya yang tinggi dan berujung runcing. Ia juga bisa bertemu banyak orang, mengunjungi banyak tempat, menyaksikan dan mendengarkan apa pun yang ia kehendaki. Ia dapat terbang melayang-layang seperti jagoan bersayap, dapat pula menyelam hingga jauh ke dalam laut serupa penyelam paling tangguh atau makhlukmakhluk bawah laut. Ia tak memiliki batas. Batasnya hanya ketika ia membuka mata dan dunia menyempit seperti sedia kala, terasa menghimpit dan begitu menyesakkan sekaligus memuakkan.

Mula-mula, Almira duduk di pojok tempat tidur dengan selimut bercorak cinderella, menempel dengan dinding kamar yang dingin dan berwarna putih pucat. Ia meluruskan kakinya, lalu menariknya pelan-pelan hingga terangkat setinggi dada. Dipeluknya kedua lutut berkulit halus dan lembut itu. Dilesakkannya kepala dengan rambut panjang berkuncir ke dalam celah di antara dua lutut. Ia mulai memejam. Seketika dunia baru terhampar.

Ada taman bunga dengan warna-warna yang kaya, berdampingan dengan lapangan penuh rerumputan paling hijau yang teramat menyejukkan mata. Desau-desau angin yang nakal menggelitiki telinga. Di antara taman dan lapangan itu, berdiri seorang bocah lelaki bertopi bersama ibunya. Keduanya menggenggam gembor yang berukuran sesuai tangan masing-masing dan dengan tertib menyirami bunga-bunga yang tumbuh di sana.

Advertisements