Cerpen Adhy Rical (Rakyat Sultra, 22 April 2019)

Kepala Patung Elstupa ilustrasi Istimewa.jpg
Kepala Patung Elstupa ilustrasi Istimewa 

Begitu banyak hal yang bergejolak dalam dada. Malam itu, aku tak bisa memicingkan mata sedikit pun padahal sudah kuminta istriku untuk bergerilya di seluruh kepala. Biasanya cara itu paling ampuh untuk memejamkan mata. Sudah beragam cara ia lakukan. Mulai dari menarik helai demi helai rambutku seperti mencabut uban, menindisnya seperti telur kutu, menggaruk-garuk, bahkan meremas-remas rambutku, tetap saja mataku tak bisa terpejam. Parahnya, perutku pun mulai mulas. Jika menelan sesuatu sedikit saja, makanan apapun, tak sampai semenit pasti kumuntahkan.

Sebenarnya, kejadian semacam itu sudah pernah kualami tapi tak separah sekarang. Kejadian pertama, kira-kira sembilan tahun yang lalu, aku pun merasakan susah tidur yang amat sangat tapi makanan apa pun masih dapat kukunyah tanpa muntah. Aku jatuh cinta yang kesekian sedang ia jatuh cinta padaku kali pertama. Perbedaan usia kami yang lima belas tahun mungkin salah satu penyebabnya. Usiaku yang sudah paruh baya, masih saja ada gadis remaja yang mencintaiku tulus. Tulus sekali. Katanya, ia sudah jatuh cinta padaku ketika masih berusia tiga belas tahun. Lalu tiga tahun berikutnya, ia tak segan-segan lagi melabrakku bahkan mengancam: “Jadilah milikku! Tak perlu menunggu setahun lagi usiaku cukup. Aku sudah siap jika kau melamarku sekarang! Bacalah Memoir of Geisha. Di akhir cerita mereka bersama kan?”

Gila. Kami memang menyukai kegilaan. Orang tua kami pun turut gila. Tak ada yang merestui. Maka seperti dugaan mayoritas, kami membuatnya nyata. Seperti sebuah lirik lagu yang hamil duluan gelap-gelapan itu.

Lahirlah anak kita bernama Elstupa pada tanggal 26 Juli. Waktunya sama ketika kita bertamasya di gunung Tawuna Ula setahun yang lalu, kedua tangan kita bertemu di atas stupa. Katamu, ‘aku ingin bersamamu sampai mati’ sedang kataku ‘jadilah istriku sampai nanti’. Sebagai bentuk ikrar tersebut, kami mencuri sebuah kepala patung kecil, memasukkannya ke dalam tas pakaian. Hingga kini, kepala patung ini pun masih terpajang di atas meja kamar tidur.

“Matilah kau! Tanah di belakang rumah sudah kugali untuk menguburmu hidup-hidup!” ancam ayah kepadamu.

Advertisements