Cerpen Komang Berata (Denpost, 21 April 2019)

Wayang Kardus ilustrasi Mustapa - Denpostw.jpg
Wayang Kardus ilustrasi Mustapa/Denpost 

PAGI sebelum matahari terbit hingga menjelang sinar matahari menyengat kulit, petang sebelum matahari terbenam hingga menjelang larut malam, hampir selalu lelaki tua itu duduk dengan penampilan eksentrik di trotoar seberang jalan sebelah barat rumah sakit. Selalu wayang berbahan kardus bekas ada di tangannya, kadang tiga buah, kadang empat buah, mungkin juga lebih. Tidak selalu Wayahan Supat memperhatikannya.

Mulut dengan banyak geligi yang sudah tanggal, seperti tidak pernah letih mengoyak bisingnya lalu lintas kendaraan. Sesekali ditarikannya wayang berbahan kardus bekasnya, lebih sering hanya dipegangnya, namun mulutnya hampir tanpa henti berceloteh. Selalu bahasa Bali yang cukup kasar terucap. Sepertinya lelaki itu orang yang biasa-biasa saja, tetapi cukup menguasai cerita Mahabharata, Ramayana, dan beberapa isi lontar yang pernah dibaca Wayahan Supat. Celotehnya pun cukup rapi, runut, dan tidak ada kesan mengadaada.

Tidak dipedulikannya Wayahan Supat yang berjongkok di samping lelaki tua itu. Tersentak Wayahan Supat oleh celotehnya sambil menarikan satu wayang kardus. “Istri mendadak sakit, bingung anak hendak dititipkan kepada siapa, saudara menjauh, ayah ibu sudah renta tidak berdaya. Menanam jagung, buahnya dipetik pencuri. Hidup ini memang sangat unik dan sangat rumit, namun sangatlah indah. Mungkin juga luar biasa. Untuk yang bisa menikmati tapi.”

Sedikit pun Wayahan Supat tidak beranjak. Hatinya sangat dongkol, bahkan geram. Lelaki tua yang belum dikenalnya itu berani mengumbar buku kisah dirinya. Tiba-tiba dihentikannya menarikan wayang kardusnya. Lelaki tua itu menoleh ke arah Wayahan Supat. Wayahan Supat bergeming. Menunggu kisah berikutnya.

“Lima ribuan satu.” Lelaki tua itu berpaling lalu menadahkan tangan kanan ke arah Wayahan Supat. Terpana Wayahan Supat menatapnya.

“Lima ribuan satu. Mulut bapak ini belum tersentuh air.” Lelaki tua itu mengulang perkataannya, membuyarkan lamunan Wayahan Supat. Segera Wayahan Supat merogoh saku celana. Selembar sepuluh ribuan berpindah tangan. Terkejut Wayahan Supat. Dikembalikannya uang Wayahan Supat.

“Kopi satu, rokok sebatang, nasi sebungkus. Cukup.”

Advertisements