Cerpen Geti Oktaria Pulungan (Analisa, 21 April 2019)

Senja di Paropo ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Senja di Paropo ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa 

Hari-hari begitu membosankan. Tak ada yang menarik. Aku ingin melepaskan rasa bebas yang tertanam dalam jiwa. Liburan dan masa sekolah sama saja. Hanya bergulir tanpa sesuatu yang berarti. Seluruh materi pelajaran sudah menempel pada kepalaku, berkat disibukan dengan les ke sana ke mari. Liburan hanya diisi dengan menghabiskan uang, belanja keluar negeri bersama mama dan berkumpul dengan teman sosialitanya. Aku ingin sesuatu yang berbeda.

Satu demi satu penjelasan dari guru bagaikan angin lalu. Pikiranku melayang jauh. Khayalan akan berpetualang bersama teman, menikmati masa remaja yang sesungguhnya. Di sudut kelas ini, satu inginku berlabuh. Bukankah hewan saja tak boleh kita kekang? Bagaimana dengan jiwa seorang gadis yang tengah mekar sepertiku?

Semburat langit Kota Medan hari ini, membuatku menikmati hidup. Dari jendela kamar, kesibukan roda empat yang mengantarkan tuannya kembali ke rumah terlihat jelas. Tidak, aku enggan menatap ke bawah sana. Menatap langit berhiaskan burung-burung yang mengepakkan sayap untuk terbang bebas menjadi pilihan tepat. Andai aku bisa seperti itu. Aku tak akan terpenjara sepi kehidupan yang membosankan. Menjadi anak pemilik sekolah membuatku memiliki sedikit teman. Langkahku yang dibatasi ayah, membuat mereka takut menyapaku. Padahal aku ingin seperti mereka.

Suara mama menyadarkanku. Pasti aku diajak ke salon, mal, atau arisan. Bahkan menikmati waktu sendiri pun aku tak bisa!

“Ada Rani nyariin kamu,” mama berlalu tanpa mengamati mendung di wajahku. Beliau memang tak mengerti anak gadisnya.

Aku menghampiri Rani yang tengah asyik mengunyah cookies. Ternyata dia tidak sendiri. Sinta yang juga menjadi teman sekelas menyenggol badannya. Rani tetap menikmati makanan yang disediakan bu Ina. Satu menit kemudian dia menuntaskan makannya dengan meminum segelas jus jeruk.

“Mungkin dia jarang makan-makanan seperti ini,” pikirku sembari tersenyum.

“Kamu mencemooh aku ya? Kamu sih, kelamaan keluar dari kamar. Makanan ini sudah memanggil-manggil, mubazir kan disia-siakan?” wajahnya memerah karena dipergoki kalap akan makanan. Aku dan Sinta menahan tawa melihat tingkahnya.

Advertisements