Cerpen Gigih Suroso (Analisa, 21 April 2019)

Merayakan Kehilangan ilustrasi Istimewa.jpg
Merayakan Kehilangan ilustrasi Istimewa

“Kehilangan adalah guru killer, seperti itulah caramu mengajarkan kami dengan cara pergi tanpa pamit, tanpa kabar bahwa kau akan pulang atau tidak sama sekali.”

Kupikir ini malam yang paling dingin di Jogja.  Aku sudah pakai jaket tapi tetap saja tak bisa menghalangi dingin yang datang. Mungkin ini kado dari musim kemarau, pikirku sambil kupejamkan mata, tapi tiba-tiba saja ponselku bergetar.

“Bang, hari ini aku mau ke Jogja.” Aku langsung duduk melihat pesan singkat dari Zuway.

“Lho, bukannya mau ke Bandung, Way?” balasku penasaran, kenapa tiba-tiba anak ini mau ke Jogja?

“Iya, gak enak kalau di Jawa tapi gak kunjungi Abang.”

Aku tersenyum kecil.

“Ok, kapan?”

“Besok, tapi uangku udah nipis.”

Kali ini aku membaca dengan serius, aku juga tak punya uang, hanya tinggal 5.000.

“Oke, Abang pesankan tiketmu dari Surabaya ke Jogja,” ucapku tegas, sambil berpikir keras ke mana aku bisa dapatkan uang buat belikan tiket kereta Zuway.

Aku langsung turun ke lantai satu asrama, di sana ada Robi, barangkali dia bisa meminjamkan aku 80 ribu untuk beli tiket kereta.

Zuway bukan orang baru dalam hidupku, dia junior rasa senior, teman sekaligus guru. Sikapnya sangat sederhana, yang paling penting dia sangat romantis sebagai sahabat. Selama hampir setahun di Jogja, sudah dua kali dia mengunjungiku. Entah dari mana uangnya, padahal dari Medan ke Jogja itu membutuhkan biaya mahal.

Libur Lebaran kemarin aku kembali ke Medan, seperti biasa Zuway yang menjemputku di bandara, dia bawakan es kelapa campur sirup kurnia sekaligus gorengan. Dia hafal makanan favoritku, penampilannya masih sangat sederhana, kemeja panjang yang dilapis dengan sweater, celana hitam, lalu sepatu karet.

“Bang, awal bulan kita makan-makan ya? Abang mau makan apa?” Hari pertamaku di Medan dapat sambutan yang begitu hangat. Makan-makan, dua suku kata yang sangat membahagiakan.

Advertisements