Cerpen S Prasetyo Utomo (Kompas, 21 April 2019)

Malam Laksmita ilustrasi Slamet Riadi - Kompasw.jpg
Malam Laksmita ilustrasi Slamet Riadi/Kompas 

Tengah malam, dalam pulas tidur, Ayah mengigau, ketakutan, serupa diburu setan. Berteriak-teriak. Tak jelas benar kata-kata yang diteriakkan. Menampakkan rasa ngeri.

Laksmita pernah bertanya pada Ayah, mimpi apakah yang selalu menghantuinya. Ayah tak pernah memberi tahu peristiwa mimpi yang senantiasa mencekam tidur malamnya.

Ayah seorang preman, melarikan diri dari pembantaian penembak misterius. Sejak dalam pelarian ke lereng Gunung Merapi, Laksmita, kelas dua sekolah dasar, selalu mendengar teriakan-teriakan ketakutan dalam mimpi Ayah. Bertahun-tahun kemudian Laksmita tumbuh sebagai gadis, terus didengarnya tiap tengah malam, igauan ketakutan. Ayah yang lumpuh, dan selalu terbaring di tempat tidur, menyisakan kengerian masa silam dalam mimpinya.

Meninggalkan lereng Gunung Merapi, kembali menempati rumah tua di pinggir kota Yogya yang sepuluh tahun lebih ditinggalkan, Laksmita merasakan hal yang merisaukan. Ayah terus mengigau tiap tengah malam. Laksmita tak pernah bisa menangkap kata-kata yang diucapkan dalam mimpi Ayah.

Hal yang tak pernah dipikirkan Laksmita, Ayah menampakkan perangai tenteram sepanjang siang. Ayah seperti terbebas dari prasangka akan menerima peristiwa yang buruk. Tak lagi merasa sebagai seorang preman buron yang bisa ditembak setiap saat, dan bangkainya dibuang di tempat sampah, tanggul sungai, atau di sisi gelap rel stasiun tua.

Sesekali Ayah membicarakan Ibu, yang selama ini meninggalkan mereka. Ayah, sebagai preman yang diburu penembak misterius, tak bisa mencegah ketika istri meninggalkannya. “Kau tak pernah mendengar kabar ibu? Ia dulu penuh rasa takut meninggalkan kita. Sejak kita bersembunyi di desa senyap lereng Merapi, aku tak pernah dengar kabarnya.”

“Apa yang mesti saya lakukan? Melacak Ibu?”

“Tidak harus melacaknya. Siapa tahu kau dapat kabar tentang dia. Ajak dia kembali ke rumah ini.”

“Semoga Ibu segera kembali ke rumah ini. Hidup bersama kita.”

“Kalau suatu hari kau nikah, mudah-mudahan ia sudah berada di sisiku. Kau bisa ikut suami.”

Advertisements