Cerpen Mashdar Zainal (Media Indonesia, 21 April 2019)

Keriap ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Keriap ilustrasi Media Indonesia

RUMPUT-RUMPUT bagai berkeriap. Taman itu serupa ladang gembala bagi anak-anak ayam yang mencericit di bawah matahari pagi. Sisa-sisa embun masih menempel di semak dan rerumputan. Dari sebuah sisi, tampak berkilapan seperti mata liontin batu intan yang berhamburan karena sebuah ledakan.

Air mancur di tengah taman bergemericik dan menyebarkan bau lumut yang begitu lembab. Beberapa tempat duduk di sekitar kolam turut basah oleh titik-titik air yang dihalau angin.

Orang-orang berlalu-lalang, bersepeda, bersepatu roda, berlari-lari kecil, atau sekadar berjalan-jalan dengan sepasang kaki mereka yang riang.

Taman yang permai, dengan semilir angin dan cahaya mantahari pagi yang hangat. Berkeriap. Semua berjalan bagai keselarasan yang tak disengaja, hingga tiba-tiba seorang perempuan paruh baya meledakkan granat kegaduhan. Ia menjerit-jerit sambil mengobrak-abrik kereta bayi di hadapannya. Orang-orang menghambur mengerubutinya.

“Aku bersumpah, bayiku tadi ada di kereta dorong ini, di sini, tapi sekarang sudah tidak ada,” perempuan paruh baya itu mulai menangis, sesenggukan, masih sambil mengobrak-abrik isi kereta bayinya seperti mencari botol susu yang terselip.

“Bayi? Hilang? Bayi Anda hilang?” Seorang perempuan enam puluh tahunan, tambun, berkacamata, mencoba mencari tahu.

“Apa ada yang melihat seseorang mendekati kereta bayi Nyonya ini?” Seorang laki-laki dengan jaket berbulu bertanya kepada kerumunan. Tak ada jawaban.

“Siapa yang mengambil bayinya?” suara yang lain mencericip.

“Bayinya hilang? Bagaimana mungkin?”

“Aku berada di taman ini sudah sejak dua jam yang lalu dan tak melihat hal apa pun yang mencurigakan,” ucap lelaki tua dengan tongkat kayu yang dicengkeramnya kuat-kuat dengan kedua tangan tuanya.

“Apa Anda melihat seseorang mengambil bayi Anda dan membawanya lari?” yang lain coba bertanya.

Perempuan itu masih menangis, “Aku bersumpah, bayiku tadi ada di kereta dorong ini, di sini, tapi sekarang sudah tidak ada,” ujarnya lagi.

Advertisements