Cerpen Nazmi (Serambi Indonesia, 21 April 2019)

Jauhari ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw.jpg
Jauhari ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia 

CELANA jeans lusuh itu kering mengeras karena darah bercampur debu dan keringat telah dibiarkan lama tak ada yang peduli. Bahkan oleh pemiliknya sendiri. Jauhari meringkuk kedinginan di bawah reruntuhan papan-papan lapuk bekas balai yang bertahun-tahun tak lagi dijamah manusia. Hanya hewan penguasa kelembaban yang merayap mencari hunian. Lipan, tikus tanah dan entah apa lagi. Jauhari ingat sekarang. Ingat dengan benar. Tubuhnya remuk lebam dihantam teman-temannya sendiri. Diarak di depan massa. Hampir dibakar di tengah manusia yang membencinya. Semua ingin dia musnah. Tapi ia tak kunjung mati meski kini ia terkulai setelah dikeroyok dan dibuang di tempat yang ia pun tak tahu di mana.  Sejak belia  mencuri, ganja, dan  judi adalah makanannya sehari-hari. Begitu juga saat merantau ke ibu kota, dia adalah seorang pelaku kriminal. Penjara bagai terminal baginya. Namun keagungannya rupanya pudar juga. Banyak pemuda dengan sepak-terjang serupa lahir sesudah Jauhari. Teknik-tekniknya mulai kuno. Ia kalah dengan para pendatang baru. Senioritas nyatanya tak berlaku. Jauhari harus pulang kampung dan mencoba mendulang emas lagi di kampung sendiri. Pemuda-pemuda diajaknya agar hidup mereka tidak sia-sia di atas sajadah lusuh dan  tidak tahu apa itu nikmat surga dunia. Namun kejayaannya memang kadung usai.  Ia terus menumpuk hutang dan menggali lebih banyak lubang. Lubang-lubang itu akhirnya menjeratnya masuk lebih dalam lagi. Namun yang terparah adalah aksinya merampok dengan tiga orang temannya. Sialnya kejahatan itu mengakibatkan terbakarnya rumah korban perampokan hingga menewaskan seorang wanita tua. Busuknya Jauhari, ia bisa mengkambinghitamkan kedua temannya, hingga dia sendiri bebas dari tuduhan kejahatan. Pengkhianatan itu berujung kehancuran bagi dirinya sendiri.

Dengan tubuh yang kaku dan linu luarbiasa, Jauhari mencoba bangkit. Ia mengerang kesakitan mengusik hewan malam. Ia pun tak tahu berapa lama sudah meringkuk di tempat itu. Tubuhnya mungkin sudah dirambati tanaman. Tangannya kebas hilang rasa. Tulang-tulangnya remuk. Otot lebam membiru bengkak di sekujur tubuhnya. Ia terpincang-pincang mencari dudukan. Bangkit dari tanah lembab yang kini menempel di sebagian tubuh dan rambutnya. Ia duduk di atas serambi pondok lapuk itu. Dia melihat sekeliling dengan matanya yang bengkak dan kepala sempoyongan. Tanaman dan pohon-pohon besar tampak menutupi sekeliling. Tak ada rumah atau manusia di sekitarnya.