Cerpen Mufti Wibowo (Jawa Pos, 21 Apri 2019)

Dongeng Terakhir untuk Jingga ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Dongeng Terakhir untuk Jingga ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

JINGGA adalah bocah perempuan periang. Dia menghabiskan banyak waktunya di taman. Halaman rumah yang ditumbuhi berbagai tanaman bunga dalam pot, pohon-pohon buah yang rindang, dan permadani hijau rumput yang menutupi permukaan tanahnya. Jingga menamai taman itu surga sebagaimana dongeng yang selalu didengar sebelum tidur dari ayahnya.

Pada hari libur atau akhir pekan, di taman itu, Jingga sering mengundang anak-anak seusianya untuk bermain sebebasnya. Keriuhan anak-anak yang bermain itu baru akan berakhir saat langit jingga di arah barat memberi aba-aba. Atau saat suara lembut seorang ibu menyebut nama anak perempuannya, “Jingga.” Itu juga menjadi pertanda permainan harus diakhiri dan mereka akan berhamburan ke pintu rumah masing-masing. Biasanya, di tengah-tengah permainan, seorang perempuan yang berwajah peri membagikan permen atau kue. Kalau sudah begitu, keriuhan mereka akan menjadi. Benar-benar suasana surga.

Sore itu, wajah bersungut-sungut Jingga yang menyambut ibunya yang hendak menjemput. Di sebuah toko boneka, Jingga bercerita kepada ibunya bahwa dia berselisih paham dengan gurunya. Dia tak sepakat tokoh kancil dalam dongeng adalah antagonis, pencuri.

Tentu saja, Jingga telah menghafal cerita dalam dongeng kancil itu versi ayahnya. Menurut versi ayahnya, kancil tak pernah mencuri. Kancil berhak mengambil semua makanan yang tersedia di hutan tempat tinggalnya. Petani itulah yang merusak rumah kancil untuk dijadikan kebun dan rumah.

***

“Jingga mulai sering menyebut namamu dalam pembicaraan kami maupun dalam igauan. Kalian bisa menghabiskan akhir pekan ini bersama?” Itu pesan suara yang dikirim perempuan itu setelah dua kali panggilannya tak terjawab.

Selang dua jam kemudian, ponsel perempuan itu berdering. Panggilan dari lelaki itu.

“Aku baru terbang. Aku akan datang, lusa. Apa dia baik-baik saja?”

“Dia anak yang pandai dan kuat. Dia dapat mengingat dengan baik semua apa yang pernah didengarnya. Tariklah kata-katamu tentang kancil dalam dongeng itu. Atau, dia akan terus berseteru dengan gurunya di sekolah.”

Advertisements