Cerpen Indra Tranggono (Kedaulatan Rakyat, 21 April 2109)

Bilik Suara ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Bilik Suara ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

SETELAH menunggu cukup lama di Tempat Pemungutan Suara (TPS), sampailah nama Tarmudi dipanggil petugas. Ia pun diberi beberapa lembar kertas. Lalu masuk ke bilik suara. Ekspresi wajahnya datar. Beberapa menit, ia memandangi surat suara. Paku sudah dia genggam. Tinggal ditusukkan. Namun, ia terdiam. Tampak ragu.

Orang-orang yang mengantre, tampak kesal. Seorang petugas mengetuk bilik, minta Tarmudi segera keluar. Namun tak ada reaksi. Petugas tak berani masuk. Bisa dianggap memengaruhi. Bisa juga terjerat pasal undangundang pemilu.

Tarmudi masih mematung. Lalu, secepat kilat tangannya berayun. Ujung paku itu menembus beberapa surat suara. Namun, mendadak tangannya berhenti bergerak, ketika ia akan mencoblos gambar calon anggota DPRD. Di lembaran itu ada wajah Jongas, saudaranya. Ia dan Jongas sesama mantu Pak Karib yang punya dua anak perempuan: Siti (yang jadi isteri Jongas) dan Sruti (yang jadi isteri Tarmudi).

Belakangan hubungan dia dengan Jongas kurang baik. Untuk maju jadi caleg, Jongas telah menjual beberapa hektare tanah milik Pak Karib. Laku ratusan juta. Tentu saja, Pak Karib marah. Sebagai menantu, Tarmudi pun membela Pak Karib. Apalagi mertuanya itu, jadi korban.

Tarmudi menghela napas. Ia muak melihat foto Jongas. Namun, di telinganya masih terngiang tangis Siti yang minta Tarmudi mencoblos Jongas. Siti sangat berharap suaminya bisa lolos jadi caleg, sehingga kelak bisa balik modal dan bahkan bisa membelikan sawah buat Pak Karib. Siti juga bilang, semua saudara trah Pak Karib sudah sepakat untuk memilih Jongas. Begitu pula para tetangga, kawan-kawan, kelompok-kelompok pemuda, grup-grup arisan ibu-ibu dan orang-orang partai. Siti tidak ingin, suara untuk Jongas berkurang satu hanya karena Tarmudi tak mencoblosnya.

Advertisements