Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 20-21 April 2019)

Samsara Samsa ilustrasi Koran Tempow.jpg
Samsara Samsa ilustrasi Koran Tempo 

Suatu malam, ketika aku baru selesai membaca Metamorfosis, Gregor Samsa datang dalam wujud kecoak. Bunyi sayapnya mencabik keheningan, mengganggu tatanan ruang. Bagi penderita katsaridaphobia sepertiku, kehadiran seekor kecoak membuat ruangan jadi terasa sempit dan mengancam. Serangga kemerahan yang mengilat itu bisa terbang, bergerak cepat, berisik, gemar menyelinap, dan konon bisa mencium bau ketakutan manusia. Semakin takut kita, semakin didekati olehnya.

Maka, ketika kulihat seekor kecoak terbang dan hinggap persis di atas buku Metamorfosis, aku terlonjak dan segera menjauh. Serangga itu menggerak-gerakkan sungutnya seperti radar yang mencari sinyal. Aku melirik sekitarku, mencari benda yang kira-kira bisa kupakai untuk menumbuknya. Ada sepasang sepatu. Bila kuambil sebelah dan kuhantamkan, kecoak itu mungkin langsung ringsek. Tetapi sampul buku itu akan terkena noda dari isi perut yang terburai. Noda itu pasti terlihat menjijikkan, baik secara material maupun moral; bagaimana mungkin sebuah buku hebat dari seorang penulis hebat dikotori oleh isi perut seekor kecoak? Pikiran tersebutditambah dengan kenyataan bahwa sepatu itu sering dipakai hingga alasnya pasti kotormembuatku urung bertindak. Aku harus menunggu kecoak itu pindah tempat, ke lantai atau dinding.

Tapi dia tidak pindah-pindah. Dia diam saja seakan-akan merasa nyaman. Aku jadi gusar, dan karena tidak lagi sabar, aku mengusirnya. Pada saat itulah aku dengar seseorang berkata, “Tuan Pengarang, tolong bebaskan saya dari siksaan ini!”

Sidang pembaca yang baik, mungkin Anda membayangkan suara itu datang dari dalam kepalaku. Bahwa aku mungkin punya gejala skizofrenia. Atau mungkin suara itu tidak jelas sumbernya, mengambang di udara seperti wahyu yang gaib. Tidak. Suara itu jelas bersumber dari kecoak di atas buku. Cobalah nyalakan radio, televisi, atau gawai. Anda pasti yakin bahwa suara musik atau pembawa acara yang terdengar memang berasal dari benda-benda itu. Begitulah, aku yakin suara itu memang berasal dari kecoak di atas buku meskipun aku tak bisa melihat mulut serangga itu berkata-kata.

“Tuan Pengarang pasti tahu siapa saya. Tidak ada di dunia ini seorang manusia yang berubah menjadi serangga, kecuali saya,” kata kecoak itu. Tentu. Dialah Gregor Samsa. Meskipun tidak merasa takut, aku juga tak berusaha mendekat. “Saya datang untuk meminta bantuan,” lanjutnya. “Apabila Tuan Pengarang bersedia mendengarkan saya, bukalah mesin tulis Tuan dan duduklah di depannya.”

Advertisements