Cerpen D. Hardi (Rakyat Sultra, 15 April 2019)

Taman Kesedihan ilustrasi Alibaba Com
Taman Kesedihan ilustrasi Alibaba Com

Senja ini kuputuskan untuk mengakhiri duka. Cukup sudah bermuram durja. Kan kuenyah kesedihan sejauh-jauhnya. Tapi ke mana aku harus membuangnya? Sedari tadi aku hanya berputar-putar kemudi tanpa arah pasti. Sebelum senja berpulang, aku ingin tidur malam ini tanpa bayang kesedihan.

Kantor sudah penuh dengan target, proposal klien, dan tekanan. Empati kalah oleh kesibukan. Pergi ke bioskop sendirian jelas butuh cadangan mental. Aku tak berniat menambah beban jantung dengan makanan cepat saji. Aku akan mati tersedak jika berlama-lama di klub malam. Bosan rasanya bepergian ke mal dengan segala bujuk potongan harga dan kesejukan buatan. Aku pun enggan menumpahkan kesedihan pada satpam kantor karibku yang sudah dijejali dengan kesulitan ekonomi rumah tangganya. Iblis kesedihan tampaknya sudah memeluk sukma.

Akhirnya kulabuhkan kaki di sebuah taman. Rimbun pepohonan memayungi tubuh yang kering terpapar matahari. Udara terasa berbeda. Bunga-bunga bermekaran. Mahkota warnanya mampu menarik mata setiap pengunjung. Harum rerumputan menguar. Letaknya yang persis di tengah kota, serasa menimbun harta karun metropolitan yang tersembunyi dari gegap-gempita serta angkuh beton-beton raksasa. Debur aliran sungai menyiram dahaga. Bunyinya bersahutan memanggil rona keemasan senja. Tempat yang sempurna untuk membuang kesedihan.

Seorang gadis kecil duduk di tengah rerumput hijau. Tangannya sesekali mencelupkan kuas dengan cat warna. Menggores bentuk di sebuah kanvas. Seorang perempuan muda—kemungkinan besar adalah ibunya—hanya memperhatikan dengan saksama. Seolah mengamati bagaimana seorang maestro lukis melahirkan mahakarya. Memindahkan taman ke dalam kanvas dengan sama cantiknya. Ia terlihat bangga.

“Lukisannya bagus. Boleh saya ikut melihat?” kataku seraya duduk di kursi batu tepat tiga langkah dari keduanya.

“Terima kasih. Tentu saja boleh. Sovia senang menggambar. Kali ini ia ingin menggambar segurat taman.”

“Anaknya berbakat, Bu.”

“Beda jauh sama Mamanya,” ujar si ibu tersenyum.

Gadis kecil itu terlihat gembira. Senyumnya tak henti-henti mengembang.

Advertisements