Cerpen Rachman Habib (Radar Selatan, 15 April 2019)

Setelah Ledakan ilustrasi ITSNICETHAT COM - Radar Selatanw.jpg
Setelah Ledakan ilustrasi ITSNICETHAT COM/Radar Selatan

No. 6 sembunyi di belakang sekolah dan menahan luka di perutnya. Darah itu belum berhenti. Genangan di bawah kakinya meluas. No. 23 nyaris terlambat menolong. No. 6 sudah harus merangkak untuk mencapai tempat aman sembari melawan kematian yang membuat kunang kunang di kepalanya. Sementara itu langit kota sudah buram oleh asap dari gereja yang meledak lebih cepat dari seharusnya.

No. 23 membopongnya ke dalam mobil. Di jalan orang orang bertaburan. Polisi repot memberi perintah. Kepala No. 23 berdengung. Jerit dan tangis dari masa lalunya berkumpul. Perasaan ini. Dulu ia sudah mengalami perasaan ini.

“Siapa yang menembakmu?”

“Kakak menembakku…”

Perasaan ini, perasaan waktu itu. Perasaan ketika ia melompat dari kapal perusahaan tambang setelah ia ledakkan. Ia mendengar jerit para pekerja kapal itu, ledakan besar dan gemuruh laut yang menelan kotoran hitam. No. 23 berenang ke perahu yang disiapkan rekan-rekannya. Ia sampai selamat tetapi muntah-muntah dan tiga minggu diserang salesma. Ia tidak mau keluar kamar. Ia meracau, dan hanya meracau.

Tujuh bulan kemudian bersama No. 6 ia diberi tugas menghancurkan pertokoan di ibu kota. Aksi itu gagal. Peluru bersarang di bahu kanannya. Bersama No. 6 ia dialihtugas ke luar negeri sementara waktu. Sebenarnyalah rencana itu tidak gagal. No. 6 menangis sejadi-jadinya saat tiba waktu menekan picu ledak. No. 6 menangis, nama ibunya disebut-sebut, bapaknya, adik-adiknya. Intinya ia menangis, dan terus menangis, dan mulutnya penuh oleh nama ibunya, bapaknya, adik-adiknya. “Kau kutembak kalau menekannya!” Dan No. 6 benar-benar menembak karena gugup. No. 6 memang menembaknya. Namun itulah alasannya lebih nyaman di dekat lelaki yang delapan tahun lebih muda darinya. Ia damai. Sejuk. Dan gelora membunuh di dadanya seperti luntur.

“Bawa aku ke sana… Aku ingin melihat tubuh kakak…”

Sepulang dari luar negeri sudah empat kali ia meledakkan sasaran yang ditunjuk pemimpinnya. Tidak ada No. 6 yang siap menembaknya karena No. 6 dikirim ke luar negeri lagi untuk disekolahkan. Rencananya selalu berhasil dan ia muak, sering mimpi buruk, dan tidak pernah damai. Di tugas-tugas berikutnya ia sebisa mungkin menghindari korban nyawa bagaimana pun caranya.

Advertisements