Cerpen Bagus Dwi Hananto (Media Indonesia, 14 April 2019)

Seekor Kucing dalam Rashomon ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Seekor Kucing dalam Rashomon ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

MALAM hari dalam paduan dekut panjang burung hantu dengan lolongan anjing. Diembus angin dingin bergelung di sekitar tubuhnya, seekor kucing tengah membersihkan diri dengan kaki depannya di bawah gerbang rashomon yang begitu luas saat seorang pria membawa karung dari arah tangga menuju kuil yang terbentang itu. Kucing itu selesai membersihkan tubuh dan ia mengamati si lelaki yang terbungkuk-bungkuk memanggul karung yang tampak berat di punggung. Sebentar kemudian kucing itu memutar tubuh mendahului si lelaki melewati gerbang yang tiang-tiangnya tebal dan membawa gelegak sunyi saking sepinya kuil itu di malam yang telah larut. Gerimis baru saja turun setelah si lelaki berhasil mencapai ujung gerbang dan berhadapan dengan pintu kuil yang megah.

Yumiura dilindungi gunung-gunung dan kota ini begitu dingin meski musim panas telah sampai dua minggu lalu. Namun, pria muda yang esoknya akan bertugas sebagai salah satu orang terdepan yang mengusung mikoshi itu tampak mencurigakan sebab tak ada yang datang di kuil ini pada malam selarut ini. Semua orang sedang tertidur dengan benak dan mimpi pada festival nanti.

Rashomon yang menyelubungi kuil Shinto itu sudah ada sejak pertengahan zaman Edo. Warna merah tiang-tiangnya telah kusam, tetapi menyisakan kesan megah yang jarang ada. Tidak semua kuil di negeri ini punya gerbang semacam itu. Hanya sedikit yang memiliki gerbang sejembar itu. Biasanya kuil-kuil hanya ditandai dengan beberapa torii.

Kegelapan yang merayap sedari petang kini telah melingkupi luasnya sudut-sudut dalam rashomon. Tak ada yang tertangkap mata dengan baik saat memasuki gerbang itu. Ruang gelap gulita harus dilewati dengan perasaan takut hingga cahaya tampak di ujung dan itu menandakan kita hampir pungkas melangkah melewati gerbang, lalu daerah terbuka depan kuil menampilkan langit yang kini menurunkan gerimis.

Karena ada kuil baru yang lebih cerah telah dibangun pada awal zaman Showa ini, kuil di atas bukit itu ditinggalkan umatnya untuk hancur digerus waktu. Kuil baru letaknya mudah dijangkau dan berada di pusat kehidupan kota. Kuil lama ini dibiarkan lapuk sebab orang-orang sudah melupakannya, seperti patung Jizo berabad-abad di pinggir jalanan, sangat kusam dan terus-menerus ditembusi hujan hingga batok kepalanya jadi ceruk membentuk kubang. Orang-orang tua yang meninggal satu per satu tidak lagi mengingat kuil ini dan anak-anak muda lebih suka kemeriahan baru di kuil pusat kota. Jadi, kuil ini hanyalah persinggahan para hantu dan kesunyian.

Advertisements