Cerpen Tetta Sally (Fajar, 14 April 2019)

Sebuah Kabar dari Teman Kelas ilustrasi Aan YS - Fajarw.jpg
Sebuah Kabar dari Teman Kelas ilustrasi Aan YS/Fajar 

Seperti hari-hari biasanya, sebelum masuk jam pelajaran anak-anak memanfaatkan lapangan sekolah untuk bermain bola takraw meski tanpa alas kaki dan seragam putih biru. Di atas langit tanpa awan, cahaya matahari sedang panas-panasnya membakar anak-anak yang bermain dengan riang, serta nelayan-nelayan terlihat sibuk membelah lautan dengan perahu kayunya.

Mairo, anak lelaki berbadan coklat dengan tinggi badan yang hampir menyerupai tinggi pagar bambu depan sekolah, bersiap memulai permainan dengan melemparkan bola rotan itu ke arah rekan setimnya. Dari garis titik putih lapangan, seorang anak perempuan bernama Jabere’, rambutnya seperti indomie, mengambil ancang-ancang untuk melakukan tendangan servis ke arah lawan. Dengan hitungan yang diawali angka satu, dua, lalu tiga. Bola itu akhirnya dilempar takjub, berputar mengiris udara yang berembus kencang dari arah pantai. Berakhir sempurna mendarat di atas punggung kaki kanan Jabere’.

“Ayo!” Suara teriakan pinggir garis lapangan kembali terngiang. Permainan sepak takraw pun dimulai.

“Hah. Terimalah ini, Bangsat!”

Jabere’ dengan tembakan saltonya, mengangkat salah satu kaki hampir setinggi jaring lapangan. Bola dengan kecepatan dahsyat, menembus daerah lawan. Cakalang dan kawan-kawan tak berdaya menangkis serangan.

Sudah setengah jam mereka bermain, skor sementara 5-3 untuk keunggulan tim Mairo dan kawan-kawan. Lemparan servis pun kembali dimulai dari tim Mairo.

Saat bola memasuki daerah Cakalang dan kawan-kawan. Tembang berhasil melaksanakan tugasnya sebagai penangkis tendangan, ia kemudian memberi servis yang boleh dibilang sungguh romantis. Sebab bola dioper dengan menggunakan kepala. Menuju ke arah Cakalang dengan posisi bola di udara yang sangat manis untuk melakukan tembakan salto.

“Rasakan ini!”

Sayang sekali. Cakalang yang telah bersiap mengambil ancang-ancang tembakan salto ala Captain Tsubasa, seketika harus terhenti saat mendengar suara lonceng berbunyi.

“Lonceng keparat.”

Advertisements