Cerpen Dadang Ari Murtono (Jawa Pos, 14 April 2019)

Rencana Kematian Menjelang Hari Pemilihan Umum ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Rencana Kematian Menjelang Hari Pemilihan Umum ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

BAYANG-BAYANG bergoyang sibuk malam itu, ketika mereka duduk berhadapan dan dipisahkan meja makan penuh piring-piring kotor bertumpuk di atasnya.

“Anak-anak sudah tidur semua?” si lelaki memecahkan hening yang menggenang.

“Aku yakin mereka sudah tidur semua,” jawab si perempuan. Ia menarik napas panjang seperti mencari harum dan hangat udara yang tak lama lagi tak akan bisa ia rasakan.

“Aku tidak ingin ini terjadi,” ujar si lelaki.

“Tapi aku menginginkannya.”

“Kau harus memikirkan ulang gagasan ini sebelum semua terlambat.”

“Aku telah memikirkannya ulang, berkali-kali, bahkan mungkin ribuan kali. Dan aku selalu sampai pada satu kesimpulan bahwa perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan aku tidak akan menyesalinya.”

“Tentu saja kau tak akan menyesalinya. Kau tak akan lagi punya waktu untuk itu. Tapi aku, aku! Siapa yang bisa menjamin bahwa aku tidak akan menghabiskan sisa umurku dalam penyesalan dan kemurungan? Dan siapa yang bisa memastikan bahwa aku tidak akan gila karena itu semua?”

“Kau boleh berduka. Tapi kau tak boleh menyesal. Apalagi menjadi gila. Kau harus mempertimbangkan betapa aku menginginkan ini semua dan bahagia karenanya kalau-kalau kau memutuskan menjadi gila.”

“Menjadi gila bukanlah pilihan yang bisa kuputuskan begitu rupa.”

“Kalau begitu ini juga bukan pilihan yang bisa kau putuskan begitu rupa. Tak ada lagi pilihan untuk meneruskan atau membatalkan. Ini keharusan. Ini satu-satunya jalan. Dengan kata lain yang lebih religius, ini adalah takdir yang tak bisa kita elakkan. Eh, kau mau bir?”

“Sepuluh botol bir pun tidak akan membantu,” si lelaki meloloskan sebatang rokok putih, menyalakannya, mengisap asapnya dalam-dalam sebelum kemudian menciptakan lingkaran-lingkaran putih yang segera terbang ke atas dan lenyap diembus udara bergerak dari kipas angin di langit-langit ruang makan itu. Beranda terlihat begitu singup. Dan cahaya lampu masih saja setia menciptakan bayang-bayang sepasang kursi di lantai beranda yang berkilat.

Advertisements