Cerpen Ayi Jufridar (Kompas, 14 April 2019)

Kari Mak Qori ilustrasi I Wayan Aris Sarmanta - Kompas.jpg
Kari Mak Qori ilustrasi I Wayan Aris Sarmanta/Kompas 

Sebagai komandan gerilyawan yang disegani, dada Pang Min terasa membara ketika mengetahui Mak Qori memberi makan tentara musuh sebanyak tiga kali sehari, 21 kali dalam sepekan, atau 90 kali sebulan.

Perbuatan terlarang itu sudah berlangsung selama dua bulan dan baru diketahui pada pekan pertama bulan ketiga. Pang Min murka kepada Mak Qori sekaligus anak buahnya yang tidak melaporkan kejadian itu pada kesempatan pertama.

“Coba bayangkan, sudah berapa piring nasi dan lauk yang disumbangkan kepada musuh. Dari makanan yang mereka santap itu, mereka dapat tenaga, otak mereka bisa berpikir untuk menyiksa kita. Berapa banyak saudara kalian dibunuh dengan tenaga yang mereka dapatkan dari makanan yang dimasak Mak Qori. Dan kalian membiarkan saja itu terjadi! Berbulan-bulan!”

Pang Min memiliki sepuluh regu gerilyawan. Kekuatan setiap regu berbeda, demikian juga persenjataannya. Satu regu terkadang berjumlah 10 orang, terkadang hanya lima saja, tergantung kebutuhan, situasi, dan musim.

Di musim tanam padi, jumlah anggotanya berkurang sebab mereka harus turun ke sawah dan menjadi warga sipil biasa. Atau ketika terjadi operasi besar-besaran, semuanya menjadi warga sipil. Siang menjadi sipil, malamnya menjadi militer.

Kelompok itu memiliki senjata api laras panjang jenis AK-47 tujuh pucuk, tetapi sering berpindah tangan kepada setiap anggota untuk mengesankan semua gerilyawan menyandang AK-47 agar kelompok mereka lebih disegani.

Sejak masuk dalam garis perjuangan tiga tahun silam, Pang Min sudah terlibat dalam sejumlah serangan terhadap iring-iringan kendaraan tentara. Beberapa tentara terbunuh, tetapi anak buahnya mengembuskan kabar bahwa sudah puluhan tentara mengembuskan napas terakhir di tangan Pang Min.

Ditambah lagi dengan cerita yang sengaja disampaikan kepada masyarakat dengan sedikit keraguan tentang mitos Pang Min yang kebal. Kesaktian itu dibuktikan banyaknya codet di tubuhnya. Bahkan proyektil peluru pun hanya melukai permukaan kulit saja, tidak mampu menembus dagingnya yang sekeras baja.

Advertisements