Cerpen A Habib (Kedaulatan Rakyat, 14 April 2019)

Dendam Pohon-Pohon ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Dendam Pohon-Pohon ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

JAUH sebelum wilayah ini menjadi perkotaan yang tidak bisa lepas dari hingar-bingar. Tuhan telah mengirimkan Si Air dan Si Pohon dari surga. Mereka adalah yatim piatu yang Tuhan turunkan untuk menjaga keseimbangan bumi. Karena Dia tahu bumi ini tidak bisa hidup tanpa Si Air, dan tidak akan bisa bernapas tanpa Si Pohon.

Meskipun mereka bersaudara, tapi mereka memiliki sifat yang jauh berbeda. Si air adalah pemarah, sedangkan di pohon begitu penyabar. Tahun demi tahun mereka tumbuh bersama-sama. Mereka saling menghidupi satu sama lain. Si Air dengan teratur memberikan tubuhnya demi terlahirnya pohon-pohon yang baru. Si Pohon dengan sangat sabar selalu membersihkan

Si Air agar tetap jernih dan tidak tercemar. Si Air pun semakin besar, dan Si Pohon telah memiliki banyak anak yang tersebar di seluruh bumi. Si Air akan marah ketika banyak pohon diperlakukan sembarangan oleh manusia. Ia ingin sekali membalas perbuatan manusia itu dengan mengalirkan seluruh tubuhnya ke permukiman. Tapi Si Pohon selalu menghentikannya, ia tidak ingin manusia mengalami musibah dan kesusahan.

“Mengapa kau selalu melarangku untuk membalaskan dendammu dan keturunanmu kepada manusia?”

“Aku tidak merasa dendam terhadap mereka, begitu pula dengan keturunanku.”

“Sampai kapan kau akan terus seperti ini, sampai semua pohon habis ditebang oleh manusia, hah?!”

“Sudahlah jangan dibahas.”

“Tidak bisa seperti itu. Aku tidak terima kalau mereka terus menusuk tubuh kalian dengan paku hanya untuk memasang foto mereka, menebang leher lalu mencencang tubuh kalian menjadi beberapa bagian, dan membunuh kalian secara massal hanya untuk menanam sebuah beton. Aku tidak terima itu. Mereka lupa kalau mereka bisa hidup karena oksigen yang selalu kalian berikan, tapi apa balasan mereka? Mereka malah memperlakukan kalian seenaknya.”

“Kau tahu kenapa Tuhan mengirim kita ke sini? Dia ingin supaya kita selalu memberikan kehidupan kepada makhluknya yang sempurna itu.”

Advertisements