Cerpen IBW Widiasa Keniten (Denpost, 14 April 2019)

Ciko ilustrasi Denpostw.jpg
Ciko ilustrasi Denpost 

ANJING peliharaanku, Ciko, tiba-tiba menghilang. Padahal, kemarin malam masih ada di rumah. Tapi, kenapa bisa menghilang? Kecemasan dan keragu-raguan akan keamanan rumahku menjadi tanda tanya. Anjing peliharaanku adalah bagian dari keluargaku. Soal kesetiaan, binatang ini melebihi segalanya. Tidak akan pernah berani berpindah haluan meskipun perutnya keroncongan.

Aku menjadi curiga. Ada yang tidak beres. Siapa tahu secara perlahan ingin mengusik ketenanganku. Paling tidak rasa iri terhadap hidupku. Maklumlah mana ada yang bersyukur melihat orang lain maju? Aku memang mengalami kemajuan dalam segala bidang. Karierku, jabatanku seperti berlomba mengejarku. Aku bersyukur karena bisa meraih mimpiku. Hanya satu impianku yang belum terwujud, mencari pendamping hidupku. Cikolah sebagai penggantinya. Aku curahkan kasih sayangku padanya. Kesehatan dan jaminan hidupnya selalu terpenuhi. Ciko merasakan cinta kasihku. Tapi, setiap perempuan yang kudekati tidak ada yang tulus merasakan kasihku.

Jika ada yang berkunjung ke rumahku, kucurigai. Siapa tahu, ada maksud lain. Anehnya sebelum anjingku menghilang jarang yang ada berkunjung ke rumahku. Saat ada yang menanyakan keberadaan anjingku, kujawab bahwa anjingku telah dipotas. Mungkin sudah jadi satai. Sahabatku yang mendengar kata-kataku hanya nyengir. “Masak ada yang suka makan daging anjing?”

“Manusia itu pemakan. Bukan penghasil makanan. Apapun yang mengencangkan perutnya akan dimakannya.” Ia tidak lagi bertanya yang aneh-aneh. Aku sendiri yang curiga tanpa kejelasan. Sebagai tuan anjing, aku tidak mau diam. Kucari setiap penjual anjing. Kuamat-amati. Tidak ada yang mirip dengan anjingku. “Mau beli anjing, Pak?”

“Tidak! Sekadar lihat-lihat saja.”

“Oh. Boleh-boleh. Ini anjing persilangan. Bagus untuk teman setia. Sudah banyak yang memelihara. Katanya pas untuk yang lagi stres.”

Tiang tidak stres.”

“Bukan itu maksud tiang. Anjing ini penurut, bisa diajak jalan-jalan. Dibandingkan jalan sendiri mendingan jalan bersama anjing.”

“Dasar penjual anjing. Jagonya menjual dagangan.”

Advertisements