Cerpen Daisy Rahmi (Koran Tempo, 13-14 April 2019)

Elena ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempow.jpg
Elena ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Sejak kecil aku tahu ada yang tak beres dengan saudara perempuanku itu. Elena senang berlama-lama mendekam di sudut gelap, mengasingkan diri seperti binatang yang terluka, tenggelam dalam dunianya sendiri. Sering kupergoki dia bicara sendiri atau berdiri diam sambil memandang jauh ke depan, seakan-akan menatap sesuatu yang kasatmata.

Elena tidak sekolah. Aku rasa tak ada yang mau menerima anak perempuan setengah sinting sebagai murid. Sebagai gantinya, Ibu mendatangkan guru privat. Itu pun tak bertahan lama. Setelah tiga kali gagal, Ibu menyerah. Beliau turun tangan sendiri, paling tidak agar anak itu bisa baca-tulis. Pernah kulihat Ibu mengajar Elena dan aku tak heran si guru privat berhenti hanya beberapa minggu setelah bekerja.

Suatu hari Elena menghilang. Ayah dan Ibu langsung sibuk mencari. Tak pernah kukatakan yang sebenarnya bahwa aku pelakunya, bahkan sampai keduanya meninggal. Kubujuk dia membuka pagar dengan iming-iming penjual permen di ujung jalan. Lebih baik dia tak ada. Aku tak bisa dan tak mungkin membenci Elena, bagaimanapun dia adikku, yang jelas aku tidak menyukainya. Karena anak itu, masa kecil kulalui dengan olok-olok sebagai kakak si gila.

Harapanku tak terkabul. Satu jam kemudian Ayah kembali bersama Elena yang ditemukan beberapa ratus meter dari rumah. Tak berani kuulangi lagi, meski kecewa. Kembalinya Elena kuanggap sebagai pertanda bahwa ia tak akan pernah lepas dari keluarga ini. Selain itu, aku khawatir bila kulakukan lagi, Ayah dan Ibu akan curiga dan mulai bertanya-tanya.

Aku mulai takut kepada Elena ketika dia dipergoki membakar boneka di halaman belakang rumah. Bayangan ia akan jadi tanggung jawabku setelah orang tua kami tak ada membebaniku bertahun-tahun. Atas persetujuanku, Elena dirawat di rumah sakit jiwa setelah dia membuat onar di tempat umum. Kukira akhirnya aku terbebas darinya. Ternyata aku salah.

***

Advertisements