Cerpen Boegies O Sonhador (Analisa, 10 April 2019)

Monolog ilustrasi Analisaw.jpg
Monolog ilustrasi Analisa

Setelah menghabiskan sebotol besar bir dan memesan bir kedua, kuhampiri ia yang sedari tadi memandang lurus pantai. Kutepuk pundaknya lalu duduk tepat di samping kirinya, tapi seperti sebulan belakangan, ia hanya memaku mata ke ujung laut.

“Hei,” kataku.

Ia tidak menjawab, menarik nafas panjang lalu menghembus­kannya perlahan, kali ini ia mengetuk-ngetukkan telunjuk kanannya yang di atas meja. Suaranya seperti detik jam, begitu syahdu menyatu bersama hembus angin yang menderukan dedaun. Sepenghenti angin, ia menghentikan pula ketukannya. Kembali sunyi, ia pun masih memandang lurus laut yang tidak berujung, aku melihat matanya. Entah kenapa aku sangat menik­mati ini, matanya yang berteka-teki.

“Apa kau ke sini untuk kembali bertanya?” katanya datar, tiba-tiba.

Aku hanya tersenyum, tidak menjawab­nya. Kusandarkan kepala pada telapak lengan kananku sembari mengarahkan kepala untuk melihatnya.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku”

“Apa bedanya?” timpaku segera

Aku sedikit tertawa. Kali ini aku sedikit mengerjainya biar ia tahu seperti apa rasanya melemparkan pertanyaan tapi tidak dijawab.

“Bedanya apa?” tanyanya tanpa mengalihkan mata.

“Aku menjawab atau tidak menjawab pertanyaanmu. Toh kau tidak akan menjawabnya juga”

“Itu karena pertanyaanmu memang tidak perlu aku jawab. Kau bisa menjawabnya sendiri kalau kau mau, tapi kau terlalu malas untuk berpikir. Kau masih saja seperti dulu.”

Aku tertawa, ia mengingatkan aku tentang masa muda. Ia teman terbaikku yang lama putus kontak, tapi ternyata dunia terlalu sempit atau mungkin takdir memang tidak pernah luas. Aku sampai lupa berapa tahun tidak bertemu dengannya tapi aku hafal betul ia. Aku dapat mengenalinya dari jauh hanya dengan melihat cara berjalan atau duduknya. Ya, terbantu dengan gaya rambut cepak kami yang tidak pernah berubah.

Advertisements