Cerpen Jeli Manalu (Banjarmasin Post, 07 April 2019)

Menembus Pintu ilustrasi Rizali Rahman - Pontianak Postw.jpg
Menembus Pintu ilustrasi Rizali Rahman/Pontianak Post

Uba membereskan semuanya. Mengembalikan pinjaman uang dari teman, termasuk biaya pembuatan patung ukir bergambar wajahnya. Mantel, jaket, dan apa saja yang ia kira bukan kepunyaannya namun tak mengingat milik siapa ia titipkan ke ibu kos. Benda-benda pemberian gadis manis yang akhirnya memilih hidup bersama lelaki lain ia susun ke dalam kardus. Ia poskan pagi sesudah minum obat penurun demam.

Uba akan pulang ke tempat lahirnya. Di sana ia bisa menemani bapak yang sudah semakin tua, menemani bapak yang selalu tak pernah ia lihat berdaging pipinya setiap pulang kampung. Ia meninggalkan lelaki itu selama kurang lebih sepuluh tahun, kerap lalai berkabar apakah ia baik atau buruk dan inilah saatnya membayar lunas itu semua. Berhenti bekerja. Menunaikan janji. Menyelesaikan tagihan-tagihan. Mengembalikan apa yang pernah dipinjam serta melupakan gairah ibukota. Ia tidak ingin seandainya sesuatu terjadi tiba-tiba kepada orang yang ia sayangi. Siapa yang tahu bila ternyata bapak justru telah mati entah di sudut mana di kebun dan membusuk.

Sepuluh hari lalu Uba kaget tidak biasa. Perasaannya terperosot ke dasar berharap itu hanya mimpi buruk. Ia ditelepon entah siapa, menanyakan pemuda di sebelah kamar kosnya. Ia yang ketika ditelepon sedang galau, sedang menghilang dari siapa saja sebab hari itu gadis yang ia cinta dipersunting lelaki lain. Amat dongkol ia mengangkat nomor yang memanggil dirinya sampai ratusan kali—maksudnya ada banyak orang yang mencoba menghubunginya.

“Ini Uba, ‘kan?”

“Siapa?” Uba gelisah karena si penelepon mengetahui namanya. Pastilah yang menelepon dengan cara seperti ini paham tentang dirinya, dan ia menjadi ketakutan karenanya. Seseorang itu mengaku bapak dari seseorang dan si bapak menangis tersedu-sedu sampai bicaranya seperti tercekik dan Uba dimintai tolong melakukan satu hal.

Selesai bicara badan Uba jadi tak enak. Ia rasakan persendiannya ngilu seolah ada menggigit-gigit di dalamnya. Dadanya bergemuruh nyeri disusul demam mulai naik. Ia berlari-lari kecil. Berhenti di bawah pohon meranggas lalu menyetop bus ke rumah kos.

“Ihut! Ihut!” teriakannya keras, berpuluh-puluh kali. Ia gedor-gedor pintu kamar sampai buku jarinya merah. Ia sepaki dinding sampai tapak sepatunya tanggal dan tetap tak ada sahutan. Hanya televisi serta mesin AC sayup-sayup mirip suara hantu di kejauhan malam.