Cerpen Achmad Taufik Budi Kusumah (Haluan, 07 April 2019)

Melankoli ilustrasi Istimewaw.jpg
Melankoli ilustrasi Istimewa 

Hujan begini, laron pada datang. Dan kamu datang, di kos. Selembar kaktus melirik cara dudukmu yang mulai goyah menunggu. Tetiba kamu membentak kaktus “Hei, kaktus! Apa kau pernah ditusuk waktu?” kamu menyeringai. Lalu berjalan mondar-mandir di serambi bos.

Pada jarak tujuh meter dari kakimu yang terayun-ayun cemas, sekumpulan kodok melakukan pesta orkestra. Si pemimpin kodok sedang memberi pencerahan kepada gerombdan, “Kita harus terus semangat latihan. Nanti jika waktunya tiba, akan kita pertontonkan bakat musikalitas kita di hadapan Tuan Presiden. Dan kita akan tinggal di Istana Negara.” Si pemimpin kodok tampaknya paham benar bahwa presiden sangat menyukai kodok dan bunyinya. Air yang mengucur melalui talang air menambah semangat kodok-kodok bernyanyi. “Kawanku semua, dengarkan bunyi air yang jatuh. Selaraskan suara kita dengan gemericiknya. Bernyanyilah. Ciptakan harmoni!” Si pemimpin kodok terus memberi instruksi.

Bola matamu yang besar, bulu mata yang tumbuh lentik dengan alami, mulai tertarik dengan kesibukan kawanan kodok. Diam-diam kamu memperhatikan. Kakimu yang sedari tadi terayun-ayun cemas kini melambat. Ketenangan mulai menjalarimu. Sejenak, kamu melupakan kekasihmu. Kos yang gelap tak berpenghuni, langit yang terus mengucurkan air, dingin udara malam yang merambat kaos dan menembus kulit, daging tubuhmu, sampai ke tulang. Kamu melihat kelucuan kodok-kodok itu. Tubuhnya yang menggembung—mengempis itu mengingatkanmu pada masa kecil. Tetiba kamu membentak kodok, “Hei, kodok! Apa kau pernah ditusuk waktu?” kamu menyeringai. Lalu kembali berjalan mondar-mandir di serambi kos.

Hujan turun terus. Seperti bocah cengeng menangis minta mainan. Deras sepanjang waktu. Sepertimu, cemas sepanjang waktu. Segala sesuatu di dunia ini butuh waktu, lebih lagi; menunggu. Tapi cinta tak mau menunggu. Kaktus, kodok, laron, dan layar ponsel yang bisu, membikin dadamu sesak. Semua orang benci menunggu. Kamu lebih lagi. Dalam sebuah omelan yang di kemudian hari kusebut sebagai sajak, kamu bilang; Kenapa harus berdiri menunggu? Kalau bisa berlari menghampiri. Kemudian kubalas; Tapi cinta seperti memandang ujung hidung sendiri. Betapa karena sangat dekat. Aku ditikam malu.

Semenjak itu, kamu mau mengakui kalau cinta dapat mengatur waktu. Terkadang bumi terasa berhenti berputar. Daun jatuh terasa sebagai jemari lentik yang melambai. Duduk beqajar di kursi semen pun terasa berayun-ayun. Seolah ada pelayan yang mendorongnya dari bdakang dan yang duduk berjajar, manggut terayun-ayun.

***

Advertisements